“Foto: Getty Images ”

Pendapat ini pro dan kontra. Ada yang mengatakan anak boleh diberi gadget selama ada di bawah pengawasan. Ada pula yang dengan tegas mengatakan tidak.

Sementara sekarang ini, sudah menjadi pemandangan biasa, sebuah keluarga datang ke restoran atau kafe. Mereka duduk, dan melihat-lihat menu. Ketika bapak-ibunya memilih makanan, dua anak mulai mengeluarkan gadget dan asyik sendiri.

Ibunya harus mengulang pertanyaan, “Mau makan apa?” berkali-kali karena anak-anaknya tidak menyimak.

Setelah makanan dipesan, maka pemandangan biasa pula, mereka sekeluarga asyik dengan gadget masing-masing. Tidak bicara satu sama lain. Senyum-senyum sendiri. Mungkin bicara dengan orang lain di sisi lain kota.

Mulailah muncul kekhawatiran dari banyak orang. Apakah anak akan terhambat tumbuh kembangnya jika diberi gadget sejak dini? Usia berapa anak boleh diberi gadget ?

Anak-anak kita lahir pada zaman internet sudah ada dan gadget begitu canggihnya. Artinya, kita perlu mengikuti perkembangan anak-anak dengan bantuan teknologi dalam dunia digital.

Sehingga, yang menjadi penting bukanlah gadget-nya, melainkan apa yang ada di dalamnya serta aturan penggunaan gadget yang kita terapkan pada anak. Dengan demikian, aplikasi atau apps-lah yang penting kita kurasi.

Bila akan memberikan gadget pada anak, sediakan gadget yang cukup untuk games anak-anak serta Youtube. Sejak awal kita perlu membuat kesepakatan berapa jam ia boleh memainkan gadget-nya dan apa yang boleh dan tidak boleh dibuka. Bangun kepercayaan bersama.

Tentu, kita boleh membuat inspeksi mendadak dengan tiba-tiba muncul dari belakangnya atau mencek history dari semua hal yang pernah ia buka.

Buatlah aturan gadget untuk anak, seperti anak tidak membuka gadget ketika berada di acara keluarga. Hal ini untuk mengajarkan anak bersosialisasi dengan sesama manusia. Lambat laun anak-anak akan terbiasa untuk tidak jadi penyendiri.

Pastikan gadget tidak terlalu kecil. Kira-kira pada kisaran 5-7 inch cukup. Lebih baik lagi jika 9-11 inch agar mata anak-anak kita tidak terlalu kesulitan melihat.

Pada gadget, kita perlu mengatur brightness agar tampilan layar tidak terlalu gelap atau malah terlalu terang. Keduanya sama-sama tidak baik bagi kesehatan mata anak.

Ajak anak menentukan apa yang paling ingin dia ketahui. Temani anak mencarinya bersama. Sebaiknya gunakan gadget dengan prosesor cukup cepat agar tidak membuatnya menunggu terlalu lama.

Pilih bersama apps yang diinginkan. Perbanyak cerita anak agar imajinasinya menari bersama keindahan teknologi. Ada banyak apps cerita anak. Salah satu yang bisa dilihat, dan ini dibuat oleh perempuan Indonesia serta sudah dapat penghargaan dari Keminfo: Bintang Kecil yang Turun ke Bumi serta Alang Dalang Cilik. Keduanya tersedia di IOS dan Android.

Youtube penting dikenali anak-anak. Karena di sana banyak terdapat informasi menarik, jika tidak salah ambil. Coba cek do it yourself, science, experiment, dan masih banyak lagi. Salah satu yang cukup banyak viewer-nya adalah Buzzfeed. Seri ini ada lima channel antara lain Buzzfeed blue, Buzzfeed red, Buzzfeed yellow. Bahkan, kita pun akan surprise dengan apa yang didapat. Menyenangkan!

Bila anak sudah punya akun Instagram, pastikan bahwa akun itu orangtua yang membuatkan dan dalam keadaan terkunci. Sehingga anak aman memposting foto. Pada bagian ini, kita bisa mulai memperkenalkan teknik memotret dan mem-video dengan baik dan benar. Sehingga lambat laun, foto-foto yang di-upload oleh si buah hati makin hari makin bagus.

Ajak anak mencoba hal baru. Apa saja? Apakah ia suka makeup, fashion, memasak (agar jagoan seperti peserta Master Chef Junior) dan lainnya. Coba masuk ke Youtube, gunakan kata kunci cooking for beginner, makeup for beginner, dan sejenisnya, atau bisa juga menggunakan kata kunci Bahasa Indonesia. Kita akan terkejut dengan hasil pencariannya. Ada begitu banyak video yang berguna dan bisa kita coba. Anak-anak akan senang dan tergerak untuk melakukan hal baru setiap hari. Barangkali dari situ ia menemukan hobinya. Atau malah menemukan passion-nya yang bisa menjadi bekal hidupnya di kemudian hari.

Pada layanan penyedia apps, biasanya display dibuat berdasarkan kategori. Pada saat hendak memilih salah satu apps, bicarakan apa saja yang hendak diinstal. Perkenalkan juga pada kapasitas gadget. Sehingga ia mengerti bahwa tidak bisa semua hal diunduh dan diinstal. Pada saatnya kelak ia harus memilih.

Pada akhirnya, anak-anak akan punya dunianya sendiri. Mereka akan tahu jauh lebih banyak apps dan informasi di dunia digital dibanding kita. Untuk itulah pentingnya bicara dengan anak setiap hari. Membicarakan gadget berdua itu menyenangkan. Apalagi jika ia mendapati ibunya banyak tahu. Nanti ia akan bilang ke teman-temannya, “My mom is cool!”

Sumber: Candra Widanarko / http://nova.id/Tips/Yang-Harus-Diperhatikan-Sebelum-Memberi-Gadget-Pada-Anak

Artikel Terkait

Stop Kekerasan dalam Hubungan Pacaran “Pokoknya kamu ngga boleh dekat sama teman laki-laki kamu.. aku ngga suka.. awas kalau sampai aku tahu ya” ... ”Gitu aja ngga bisa, bodoh banget sih kamu” ... ”Aku laki-laki, dan kamu perempuan..seharusnya perempuan itu t...
34 Bendera Kontingen PON XIX dan Peparnas XV Sudah Dikibarkan Sebanyak 34 bendera kontingen PON XIX dan Peparnas XV Tahun 2016, Rabu (14/9) telah dikibarkan di Halaman Stadion Gelora Bandung Lautan API (GBLA) dengan inspektur upacara Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan. Pengibaran ben...
Modus Prostitusi Anak Semakin Canggih, Via Aplikasi Online Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menilai saat ini modus prostitusi yang melibatkan anak-anak telah semakin canggih. Hal itu lantaran adanya 18 aplikasi ‎yang digunakan komunitas gay untuk mengeksploitasi anak. Kasus ...
Resolusi 2017: 5 Trik Agar Balita Tak Kecanduan Gadget Foto : ISTOCK Mari lebih kreatif mengajak anak bermain di luar. Usia balita adalah fase eksplorasi anak dengan lingkungan, lo. Jangan sampai disia-siakan. Fenomena anak dan gadget yang sulit dipisahkan memang bukan lagi...
Jengkel dengan Polah Anak, Jangan Sampai Memukul ya..Ayah Bunda TEMPO.CO, Jakarta - Disengaja atau tidak, masih banyak orang tua menerapkan kekerasan fisik dalam mendisiplinkan anak. Pemukulan, seringan apapun, dikategorikan dalam kekerasan. Menurut data UNICEF pada 2014, 80 persen orang ...

Leave a Reply

Your email address will not be published.