Baru-baru ini masyarakat Indonesia dihenyakkan oleh munculnya kasus tragis berupa pemerkosaan massal sekaligus pembunuhan. Korban mengalami kematian setelah diperkosa kolektif alias rame-rame (gang rape) disertai dengan kekerasan fisik berupa cekikan dan pemukulan hingga berujung kematian. Jenazah korban dibuang ke jurang sedalam lima meter. Korban nahas tersebut adalah Yuyun, siswi SMP 5 Satu Atap, Kecamatan Padang Ulak Tanding, Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu.

Yuyun menemui ajalnya setelah diperkosa secara keji oleh 14 orang pelaku pada 2 April 2016 lalu. Dari ke-14 pelaku tersebut, 12 diantaranya saat ini telah berhasil ditangkap dan 2 pelaku masih buron. Dari 12 pelaku tersebut, tujuh merupakan anak di bawah umur (kurang dari 18 tahun). Kisah tragis Yuyun hanyalah satu potret dari sekian banyak kasus kerusakan moral akibat dampak pornografi.

Kecanduan Film Porno

Dalam kasus mengenaskan tersebut, diberitakan bahwa sebelum melakukan aksi kejinya, para tersangka diketahui biasa berkumpul di TKP untuk mengonsumsi minuman keras sembari melihat konten-konten porno di handphone. Para orangtua mereka tidak mudah memonitor apa saja yang diakses anak-anaknya.

Menurut psikolog, dari perilakunya mereka seperti kecanduan pornografi sehingga berkeinginan untuk melampiaskannya. Bila dilihat dari kacamata psikologi, orang kecanduan nonton pornografi, dia pasti cenderung melampiaskannya. Dari hasil penelitian, “Pelaku gang rape itu terjadi 90 persen terjadi pada remaja. Ini merusak otak.

Orang yang kecanduan pornografi, tiap beberapa menit motret (hal-hal berbau seks) di kepala mereka.

Pornografi dan dampaknya sangat berbahaya bagi masyarakat kita, terutama bagi generasi muda. Karena itu, semua pihak harus berupaya dengan serius mengatasi masalah yang dapat menghancurkan moral bangsa ini. Betapa dampak pornografi sangat merusak, karena pornografi menimbulkan kecanduan yang jelas berakibat fatal.

Penyalahgunaan Media Sosial

Tragedi Yuyun merupakan fenomena gunung es. Di Indonesia akhir-akhir ini banyak muncul berita kasus gang rape. Kasus yang muncul menjadi berita lebih sedikit dari jumlah kasus yang terjadi di lapangan. Mungkin ini juga terkait dengan sikap diamnya dari korban. Karena kalau berbicara malah semakin menjadi aib.

Kasus kejahatan seksual berupa pornografi tersebut dipicu oleh konten berupa gambar dan video porno melalui tautan dibagikan dari media sosial. Para anak muda, remaja bahkan anak-anak hampir bisa mengakses konten yang berbau pornografi kapanpun di manapun langsung digenggaman mereka melalui hanphone dengan hampir tanpa pengawasan dari orang tua.

Ketua Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia, Yuliandre Darwis mengatakan persoalan kekerasan seksual yang terjadi pada anak-anak itu bisa melibatkan media sosial yang sangat gampang sekali dan cepat untuk diakses. Menurutnya pengguna akses media sosial di kalangan anak muda saat ini banyak yang berbau pornografi.

“Itu sudah kami teliti, Facebook, Youtube, maupun Twitter dan masih banyak lagi. Itu hampir semua yang diakses berisi Pornografi. Ini sudah mulai komunikasi yang salah.

Darwis meminta pada seluruh media massa nasional untuk mengutamakan mencerdaskan anak bangsa dengan menampilkan sebuah acara hiburan yang baik, bukan malah membuat keadaan menjadi buruk.

Darwis melanjutkan “Kita bicara televisi, saat ini hanya mengejar rating. Mereka menanyangkan hal-hal yang berbau vulgar, kriminal, dan kisah anak muda pacaran. Tentu itu akan membangun mindset di kalangan muda. Seharusnya televisi nasional turut membangun negara dengan siaran yang berbau pendidikan dan hal-hal yang positif.”

“Fenomena media sosial juga bisa sangat memberikan pengaruh. Contohnya kasus prostitusi online yang akhir-akhir ini sering dijumpai. Dan rata-rata video pornografi itu di-save di handphone anak-anak muda,”

Berdasarkan survei Komisi Perlindungan Anak Indonesia mencapai 97 persen anak-anak seumuran SMP dan SMA yang mengakses tautan porno, sedangkan 92 persen anak SD dan SMP juga sudah mengakses tautan pornogarfi.

Mudahnya akses terhadap pornografi ini, menicirikan ada tugas Kominfo yang harus dimaksimalkan, untuk memproteksi anak-anak Indonesia dari konten pornografi. Walaupun Kementerian Komunikasi dan Informatika sudah memblokir situs-situs porno. Namun (nyatanya), para remaja dan anak-anak masih dengan mudah mengakses video porno.

Berita tentang kasus ini silakan lihat video berikut.

Tidak Bisa Dicirikan

Para pecandu pornografi tak bisa dicirikan secara kasat mata. Karena mereka akan berlaku normal di depan publik menutupi kecanduanya. Dalam ruang pribadi, barulah si pecandu akan menunjukkan sikap aslinya.

Namun sederhananya, jika seseorang menyimpan banyak gambar atau video porno di ponsel, patut diduga orang tersebut kecanduan atau akan kecanduan pornografi. Bisa juga dengan melihat history browser-nya. Itu bisa menjadi hal yang mengindikasikan orang kecanduan seks atau tidak.
Masih menurut Ketua Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia, Yuliandre Darwis sebelumnya mengatakan, berdasar hasil survei, anak-anak Indonesia ranking ke-3 dalam mencari dan mengakses situs-situs porno dunia.

Kasus Yuyun, kata dia, harusnya menjadi tamparan bagi pemerintah terkait perlindungan hak-hak anak. Kasus ini juga seharusnya bisa menjadi isu internasional agar pemerintah lebih menjamin perlindungan anak.

Minuman Keras sebagai Pemicu

Kasus pemerkosaan dan pembunuhan yang menimpa Yuyun juga diketahui melibatkan banyak faktor. Selain unsur konten pornografi yang akrab dengan para pelaku, ada juga unsur minuman keras (miras) yang disebut jadi pemicu. Diberitakan, para pelaku sebelumnya menenggak minuman keras sembari melihat video porno hingga akhirnya terjadi perkosaan berakhir pembunuhan tersebut.

Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa yang sempat menemui para pelaku mengemukakan harus ada upaya penertiban peredaran minuman keras yang dapat memengaruhi orang berbuat kejahatan dan menyebabkan kematian bagi orang lain.

Artikel Terkait

Rakornas PP-PA di Maluku Utara, Ribuan Peserta Ramaikan Kota Ternate Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kementrian PP-PA) Yohana Yembise didampingi KH. Gubernur Maluku Utara Abdul Gani Kasuba, Melaksanakan Konfrensi Pers dalam rangka Rakornas PP-PA yang telah dimulai sej...
Resolusi 2017: 5 Trik Agar Balita Tak Kecanduan Gadget Foto : ISTOCK Mari lebih kreatif mengajak anak bermain di luar. Usia balita adalah fase eksplorasi anak dengan lingkungan, lo. Jangan sampai disia-siakan. Fenomena anak dan gadget yang sulit dipisahkan memang bukan lagi...
Nova Eliza: Butuh Laki-laki untuk Hentikan Kekerasan pada Perempuan NOVA Eliza terus berjuang menghentikan kekerasan terhadap perempuan. Perempuan berdarah Aceh tersebut mengumpulkan 51 tokoh laki-laki yang dipilihnya sebagai sosok yang peduli untuk menghentikan kekerasan terhadap perempuan. ...
Tak Disangka, 30 Hal Sepele Ini Berarti Besar Bagi Anak Anda Anak, adalah hal yang kompleks untuk dibicarakan terutama setelah menjadi orang tua. Pastinya Anda akan melakukan segala hal  demi membahagiakan anak-anak dengan segala cara. Faktanya, anak-anak tidak membutuhkan hal-hal besa...
Hari Jadi Jawa Barat ke-71 “Kerja Nyata Untuk Jabar Juara” Jawa Barat dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat kembali mengadakan rapat paripurna daerah dalam rangka Peringatan Hari Jadi Jawa Barat ke 71 Tahun 2016 pada jum'at (19/8) bertempat di gedung DPRD Jawa Barat Kota Bandung. Aca...

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.