Artikel Parenting Islam

Artikel Parenting Islam

Artikel

Alhamdulillah puji syukur kehadirat Allah Rabbul Alamin, dengan izin-Nya kami dapat mengumpulkan materi-materi parenting dari beberapa Ustad. Diantaranya Ustad Muhammad Fauzil Adhim, Iwan Januar, Budi Ashari Lc dan ustad ustadzah lainnya.

  1. Membentuk Idealisme Pada Anak -> http://bit.ly/1LOexUO
  2. Mendidik Anak Tanpa Emosi -> http://bit.ly/1LOeEzJ
  3. Hukum Aqiqah Anak Sudah Meninggal -> http://bit.ly/1LUU6ZZ
  4. Durhaka pada Orang Tua , Menuai Petaka -> http://bit.ly/1LuhZG9
  5. Belajar dari masa Kecil -> http://bit.ly/1OOAQQd
  6. 8 Panglima Hebat Islam -> http://bit.ly/1S3xWpi
  7. Mencegah Sebelum Parrahhh -> http://bit.ly/1OZ7NYP
  8. Siapa Yang Lebih didengar Anak Kita? -> http://bit.ly/1PKpInz
  9. Remaja Tanpa Krisis Identitas -> http://bit.ly/1Lui4d3
  10. Jika Ingin Melepas Anak Anda Pacaran -> http://bit.ly/1Lui7Wc
  11. Anak Nakal itu Ada -> http://bit.ly/1k1Obaz
  12. Jadilah Ayah Menyenangkan -> http://bit.ly/1OOB21U
  13. Anak Perlu Belajar Mandiri -> http://bit.ly/1GzjiEF
  14. Membiasakan Anak Bersilaturahmi -> http://bit.ly/205mChE
  15. Ayah… Ternyata anda Penyebab Utamanya -> http://bit.ly/1OZ8iSH
  16. Ajarkan Anak Bertahan, Bukan Menyerang -> http://bit.ly/1R5cn6O
  17. Ayah Hebat Peduli Anak -> http://bit.ly/1POaMnA
  18. Mengendong Dalam Penat -> http://bit.ly/1LUU7wR
  19. Bersyukur Sebelum Tidur -> http://bit.ly/1KxNFqg
  20. Peran Ideal Ayah -> http://bit.ly/1KxNFXr
  21. Bersahabat Dengan Anak -> http://bit.ly/1k1OBxM
  22. Katanya Anak Anugerah -> http://bit.ly/1LOff4l
  23. Ayah, Ajaklah Anakmu Bermain -> http://bit.ly/1k1OJgF
  24. Pentingnya Sirah Nabi SAW dan Sahabat bagi Anak -> http://bit.ly/1O62bgx
  25. Agar Anak Respek Pada Orang Tua -> http://bit.ly/1Mrddgg
  26. Larangan yan dilarang, Larangan yang diperbolehkan -> http://bit.ly/1RA3fah
  27. Menanamkan Adab Bicara Pada Anak -> http://bit.ly/1kOjG8N
  28. Mengembangkan Potensi Anak Usia Dini -> http://bit.ly/1P3sRgL
  29. Mempersiapkan Anak Memasuki Usia Baligh -> http://bit.ly/1Gw71kE
  30. Mengatasi Kemarahan Anak -> http://bit.ly/1GNfAHI
  31. Manisa -> http://bit.ly/1LESVwr
  32. Memahami Karakter ABG -> http://bit.ly/1WJlLUB
  33. Ayah ‘Bisu’ -> http://bit.ly/1Qq0cmZ
  34. Ilmuwan Cilik -> http://bit.ly/1RIUcUY
  35. Tanggap Cerita Buruk dan Baik dari Anak -> http://bit.ly/1Sd4Nax
  36. 6 Cara Mendidik Anak Sholeh dan Sholehah dengan Tepat -> http://bit.ly/1klpgPX
  37. Kisah hidup secara singkat Imam Syafii -> http://bit.ly/1jDDVVm
  38. Tips Menanamkan Kewajiban Menuntut Ilmu pada Anak -> http://bit.ly/1O7SRU5
  39. Tega Pada Anak itu Penting -> http://bit.ly/1NLTt7T
  40. Kerjakan PR dirumah -> http://bit.ly/1NAgZyl
  41. Buatlah Ibumu Tertawa -> http://bit.ly/1RaTRwZ
Banyak Main Gadget, Picu Anak Jadi Autis

Banyak Main Gadget, Picu Anak Jadi Autis

Artikel

Direktur Autisme Care Center, Juju Sukmana mengatakan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) yang menderita Autis terkadang terjadi sejak lahir. Namun dalam perkembangannya kini, anak hingga usia lima tahun memiliki kemungkinan menyandang autisme jika kurangnya stimulus dari orang sekitar khususnya orangtua. 

Untuk itu, mengajak bicara, bercanda, hingga bercengkrama bersama anak sangatlah penting dilakukan orang tua.

“Kebanyakan autis itu sejak lahir tapi hati-hati sekarang dengan marakaya gadget, kurangnya perhatian orang tua bisa memicu autis,” katanya kepada wartawan di Bandung, Rabu (26/7/2017).

Anak main gadget bisa autis
Anak main gadget bisa autis

Menurutnya, banyak orangtua sekarang memberikan gadget ke anak biar asik bermain. Padahal kesibukan anak dengan gadget dan kurangnya perhatian dari orangtua bisa memicu ke autis. 

“Setiap anak punya gejala autis tapi karena stimulusnya baik jadi enggak muncul. Kalau kurang perhatian, anak bisa autis,” ujarnya.

Juju menjelaskan, pemberian sederet alat berteknologi canggih dengan harga yang tergolong mahal bukan menjadi jalan keluar agar anak bisa asyik dan tidak mengganggu orangtua. 

“Jangan sampai pemberian gadget justru membuat orangtua menjadi menyesal. Tiba-tiba anak kaya punya dunianya sendiri, itu tidak akan baik untuk tumbuh kembangnya,” tuturnya.

Sementara itu, sebagai bentuk kepedulian terhadap ABK, General Manager Indo Wisata Permata (IWP) Wahyudi menggelar kegiatan mewarnai dengan mengundang 15 anak berkebutuhan khusus dari Yayasan Autisme Care Center.

“Kita mengundang dari Yayasan anak autis untuk datang ke sini sesuai dengan budaya perusahaan kita, ingin berbagi dengan mereka agar bisa bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya,” ungkapnya. 

IWP ingin memfasilitasi baik ABK maupun para pendidiknya. Pasalnya, dalam membimbing ABK ini memerlukan perhatian yang lebih.

“Apa yang kita punya dan bisa diberikan kepada mereka kita berikan, terus membantu tenaga pendidiknya karena dinilai sangat berjasa. Mengingat ABK ini butuh penanganan khusus dari gurunya,” ungkapnya. 

“Kami juga ingin merasakan betapa susahnya mendidik anak autis. Sebab ini baru pertama kali kami lakukan sebagai bagian dari program corporate social responsibility kita kepada mereka,” tambahnya.

Wahyudi berharap dengan kegiatan ini bisa mengenalkan lokasi wisata permata yang dibuat, bukan hanya sebatas destinasi wisata saja, melainkan untuk kegiatan positif lainnya.

“Sekaligus menegaskan bahwa tempat ini bukan hanya untuk wisata permata saja tapi bisa juga untuk outing, gathering, apalagi event lainnya yang bisa berguna bagi masyarakat,” pungkasnya. (MAT)

Sumber: jabarprov.go.id

[DOWNLOAD] Ebook – Buku Saku Mendidik Anak Di Era Digital

[DOWNLOAD] Ebook – Buku Saku Mendidik Anak Di Era Digital

Media Resources

Silakan download Ebook Buku Saku Mendidik Anak di Era Digital Download

Seri Pendidikan Orang Tua: Mendidik Anak Di Era Digital

Djaja, Maswita and Nirawaty, Ninin and Darnis, Syefriani and Rachman, Anne Gracia Nurbaeti and Solihin, Agus M and Prabowo, Yuwono Tri and Zakaria, Mohamad Roland and Hayati, Lilis (2016) Seri Pendidikan Orang Tua : Mendidik Anak Di Era Digital. Pedoman. Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga, Jakarta.

Buku seri pendidikan orang tua : mendidikak anak di era digital ini diharapkan dapat menambah pengetahuan wawasan, serta perubahan pola pikir orang tua dalam menghadapi perkembangan teknologi dan informasi yang telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari.

Ebook - Buku Saku Mendidik Anak Di Era Digital
Ebook – Buku Saku Mendidik Anak Di Era Digital
Ebook - Buku Saku Mendidik Anak Di Era Digital
Ebook – Buku Saku Mendidik Anak Di Era Digital

Ebook Buku Saku Mendidik Anak di Era Digital Download

Yang Harus Diperhatikan Sebelum Memberi Gadget pada Anak

Artikel


“Foto: Getty Images ”

Pendapat ini pro dan kontra. Ada yang mengatakan anak boleh diberi gadget selama ada di bawah pengawasan. Ada pula yang dengan tegas mengatakan tidak.

Sementara sekarang ini, sudah menjadi pemandangan biasa, sebuah keluarga datang ke restoran atau kafe. Mereka duduk, dan melihat-lihat menu. Ketika bapak-ibunya memilih makanan, dua anak mulai mengeluarkan gadget dan asyik sendiri.

Ibunya harus mengulang pertanyaan, “Mau makan apa?” berkali-kali karena anak-anaknya tidak menyimak.

Setelah makanan dipesan, maka pemandangan biasa pula, mereka sekeluarga asyik dengan gadget masing-masing. Tidak bicara satu sama lain. Senyum-senyum sendiri. Mungkin bicara dengan orang lain di sisi lain kota.

Mulailah muncul kekhawatiran dari banyak orang. Apakah anak akan terhambat tumbuh kembangnya jika diberi gadget sejak dini? Usia berapa anak boleh diberi gadget ?

Anak-anak kita lahir pada zaman internet sudah ada dan gadget begitu canggihnya. Artinya, kita perlu mengikuti perkembangan anak-anak dengan bantuan teknologi dalam dunia digital.

Sehingga, yang menjadi penting bukanlah gadget-nya, melainkan apa yang ada di dalamnya serta aturan penggunaan gadget yang kita terapkan pada anak. Dengan demikian, aplikasi atau apps-lah yang penting kita kurasi.

Bila akan memberikan gadget pada anak, sediakan gadget yang cukup untuk games anak-anak serta Youtube. Sejak awal kita perlu membuat kesepakatan berapa jam ia boleh memainkan gadget-nya dan apa yang boleh dan tidak boleh dibuka. Bangun kepercayaan bersama.

Tentu, kita boleh membuat inspeksi mendadak dengan tiba-tiba muncul dari belakangnya atau mencek history dari semua hal yang pernah ia buka.

Buatlah aturan gadget untuk anak, seperti anak tidak membuka gadget ketika berada di acara keluarga. Hal ini untuk mengajarkan anak bersosialisasi dengan sesama manusia. Lambat laun anak-anak akan terbiasa untuk tidak jadi penyendiri.

Pastikan gadget tidak terlalu kecil. Kira-kira pada kisaran 5-7 inch cukup. Lebih baik lagi jika 9-11 inch agar mata anak-anak kita tidak terlalu kesulitan melihat.

Pada gadget, kita perlu mengatur brightness agar tampilan layar tidak terlalu gelap atau malah terlalu terang. Keduanya sama-sama tidak baik bagi kesehatan mata anak.

Ajak anak menentukan apa yang paling ingin dia ketahui. Temani anak mencarinya bersama. Sebaiknya gunakan gadget dengan prosesor cukup cepat agar tidak membuatnya menunggu terlalu lama.

Pilih bersama apps yang diinginkan. Perbanyak cerita anak agar imajinasinya menari bersama keindahan teknologi. Ada banyak apps cerita anak. Salah satu yang bisa dilihat, dan ini dibuat oleh perempuan Indonesia serta sudah dapat penghargaan dari Keminfo: Bintang Kecil yang Turun ke Bumi serta Alang Dalang Cilik. Keduanya tersedia di IOS dan Android.

Youtube penting dikenali anak-anak. Karena di sana banyak terdapat informasi menarik, jika tidak salah ambil. Coba cek do it yourself, science, experiment, dan masih banyak lagi. Salah satu yang cukup banyak viewer-nya adalah Buzzfeed. Seri ini ada lima channel antara lain Buzzfeed blue, Buzzfeed red, Buzzfeed yellow. Bahkan, kita pun akan surprise dengan apa yang didapat. Menyenangkan!

Bila anak sudah punya akun Instagram, pastikan bahwa akun itu orangtua yang membuatkan dan dalam keadaan terkunci. Sehingga anak aman memposting foto. Pada bagian ini, kita bisa mulai memperkenalkan teknik memotret dan mem-video dengan baik dan benar. Sehingga lambat laun, foto-foto yang di-upload oleh si buah hati makin hari makin bagus.

Ajak anak mencoba hal baru. Apa saja? Apakah ia suka makeup, fashion, memasak (agar jagoan seperti peserta Master Chef Junior) dan lainnya. Coba masuk ke Youtube, gunakan kata kunci cooking for beginner, makeup for beginner, dan sejenisnya, atau bisa juga menggunakan kata kunci Bahasa Indonesia. Kita akan terkejut dengan hasil pencariannya. Ada begitu banyak video yang berguna dan bisa kita coba. Anak-anak akan senang dan tergerak untuk melakukan hal baru setiap hari. Barangkali dari situ ia menemukan hobinya. Atau malah menemukan passion-nya yang bisa menjadi bekal hidupnya di kemudian hari.

Pada layanan penyedia apps, biasanya display dibuat berdasarkan kategori. Pada saat hendak memilih salah satu apps, bicarakan apa saja yang hendak diinstal. Perkenalkan juga pada kapasitas gadget. Sehingga ia mengerti bahwa tidak bisa semua hal diunduh dan diinstal. Pada saatnya kelak ia harus memilih.

Pada akhirnya, anak-anak akan punya dunianya sendiri. Mereka akan tahu jauh lebih banyak apps dan informasi di dunia digital dibanding kita. Untuk itulah pentingnya bicara dengan anak setiap hari. Membicarakan gadget berdua itu menyenangkan. Apalagi jika ia mendapati ibunya banyak tahu. Nanti ia akan bilang ke teman-temannya, “My mom is cool!”

Sumber: Candra Widanarko / http://nova.id/Tips/Yang-Harus-Diperhatikan-Sebelum-Memberi-Gadget-Pada-Anak

Sangat Penting! Ini Peran Ayah dalam Tumbuh Kembang Anak

Sangat Penting! Ini Peran Ayah dalam Tumbuh Kembang Anak

Artikel

“Foto: Getty Images “

Sebelumnya, pemikiran bahwa ayah hanya bertugas sebagai pencari nafkah dan anak-anak adalah urusan ibu adalah hal usang. Pada zaman sekarang, baik ayah maupun ibu memiliki peran yang setara dan seimbang dalam tumbuh kembang anak yang optimal.

Perubahan mengenai peran ayah dalam tumbuh kembang anak ini diamini oleh Agustina, M.Psi., Psikolog dari PBKP Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara.

“Ada beberapa perbedaan. Sebenarnya, ayah di zaman dulu memiliki waktu yang lebih panjang berada di rumah dibandingkan ayah di zaman sekarang. Misalnya, waktu yang dibutuhkan untuk perjalanan dari rumah ke kantor dan sebaliknya, lebih pendek dibandingkan zaman sekarang. Hal ini dikarenakan zaman sekarang jumlah kendaraan lebih banyak sehingga terjadi kemacetan dan menyita waktu yang seharusnya sudah tiba di rumah menjadi tidak.”

Akan tetapi, lanjut Agustina, saat ini telah terjadi peningkatan kualitas pendidikan. “Ayah zaman sekarang lebih berpendidikan dan lebih paham bagaimana peran ayah dalam tumbuh kembang anak serta cara-cara untuk meningkatkan kualitas dalam mendidik anak.” Terlepas dari perbedaan zaman, Agustina mengakui bahwa ayah dan ibu memiliki peran yang sama terhadap tumbuh kembang anak.

Bicara soal peran ayah dalam tumbuh kembang anak, bagi Agustina, tidak ada perbedaan signifikan antara anak perempuan dan anak laki-laki. “Tidak ada peran spesifik ayah berkaitan dengan jenis kelamin anak. Namun, dapat dikatakan bahwa ayah dapat berperan untuk menumbuhkan rasa percaya diri anak melalui aktivitas bermain yang melibatkan motorik kasar.”

Peran ayah dalam tumbuh kembang anak yang tak kalah penting adalah mengajarkan rasa tanggung jawab pada anak melalui aktivitas sehari-hari anak dan membantu anak dalam mengontrol emosi dan pengekspresian emosi. “Di sisi lain, pada anak laki-laki, ayah bisa mengajarkan mengenai peran gender pada anak laki-laki. Sebut saja bagaimana anak laki-laki harus bertindak dan berinteraksi di lingkungan sesuai dengan jenis kelaminnya.”

Lantas, apa saja bentuk perhatian yang mesti diberikan ayah kepada anak meski ia sibuk bekerja. Apakah hal sesederhana menanyakan, “Bagaimana harimu hari ini, Nak?” akan membuat perubahan besar dalam tumbuh kembang anak?

Agustina pun mengiakan. “Sesibuk apa pun seorang ayah, anak tetap membutuhkan dukungan, perhatian, dan kasih sayang dari ayahnya.”

Oleh karena itu, jangan lupa menanyakan bagaimana anak menjalani harinya di sekolah. Pasalnya, interaksi semacam ini akan membuat kemampuan akademis anak menjadi lebih baik. Selain ucapan verbal, ayah juga bisa memberikan bentuk perhatian berupa belaian sayang pada anak, pelukan, dan penghargaan berupa pujian pada anak saat berhasil mencapai sesuatu atau saat anak sudah menunjukkan usaha yang baik.

“Ayah harus menyempatkan diri menunjukkan kasih sayang dengan membelai dan memeluk anak serta menyempatkan waktu untuk dapat makan malam bersama dan berdoa bersama setiap malam.”

Pasalnya, melalui makan malam bersama, tambahnya, anak dapat merasakan kehangatan dan kedekatan di antara anggota keluarga. Selain itu, momen ini dapat juga dijadikan ajang mengobrol antar anggota keluarga mengenai kegiatan masing-masing di hari itu.

Lalu, apa yang harus dilakukan ayah untuk menyeimbangkan kesibukan pekerjaan dan memberikan perhatian untuk buah hati? “Pertama, menyempatkan diri untuk mengambil cuti beberapa hari di saat anak libur sekolah dan menghabiskan waktu untuk berinteraksi secara intensif dengan anak. Kedua, menanyakan tentang kegiatan sehari-hari anak setiba dari kantor.”

Ibu, dalam hal ini, juga dapat mendukung peran ayah dalam tumbuh kembang anak. “Mendukung setiap bentuk atau usaha yang ditunjukkan oleh ayah untuk anak. Jangan sampai hal yang diterapkan oleh ayah berlawanan atau berbeda dengan yang diterapkan oleh ibu,” ucap psikolog yang berpraktik di Little Shine Pre-School ini.

Sumber: Soca Husein / http://nova.id/Keluarga/Anak/Sangat-Penting-Ini-Peran-Ayah-Dalam-Tumbuh-Kembang-Anak