Tempat: Operation Room BP3AKB Jawa Barat
Hari/Tanggal: Kamis/8 September 2016
Waktu: Pukul 09.00 s.d selesai
Acara: Rapat Koordinasi Penanganan Tindak Kejahatan Seksual Terhadap Anak
Peserta Rapat: 20 orang

Berikut notulensi Rapat Koordinasi Penanganan Tindak Kejahatan Seksual Terhadap Anak

Badan Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (BP3AKB) melalui Bidang Kesejahteraan dan Perlindungan Anak  pada hari Kamis tanggal 8 September 2016 menyelenggarakan Rapat Koordinasi Penanganan Tindak Kejahatan Seksual Terhadap Anak, pertemuan ini dipacu adanya kejadian prostitusi / “GAY” online yang terjadi di Kabupaten Bogor. Peserta rapat dihadiri oleh:

  1. Biro Bangsos Setda Provinsi Jawa Barat
  2. BP3AKB Provinsi Jawa Barat
  3. Dirskrim POLDA Jawa Barat
  4. Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat
  5. Dinsos Provinsi Jawa Barat
  6. Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat
  7. Kanwil Agama
  8. Dinsosnakentras Kabupaten Bogor
  9. BPPKB Kabupaten Bogor
  10. BPPKB Kota Banjar
  11. LPA Jawa Barat

Rapat dibuka oleh Kepala BP3AKB Prov Jabar Dr. Ir. Dewi Sartika., M.Si dan langsung melakukan sharing apa saja yang telah dilakukan oleh Pemerintah Kab/Kota dan Provinsi atas perlindungan anak di Jawa Barat.

Kepala BPPKB Kabupaten Bogor:

Kabupaten Bogor terdapat 0,35% kasus dari jumlah anak di Kabupaten Bogor. Semua kasus telah selesai. Kabupaten Bogor sudah melakukan langkah-langkah pencegahan perlihal kekerasan terhadap anak antara lain:

  1. Kurang lebih terdapat 36 Gugus Perlindungan Perempuan dan Anak, 4 sedang berjalan
  2. Satgas sebanyak 136 di Desa telah dilakukan pelatihan-pelatihan
  3. POJA KLA telah terbentuk, ketuanya Setda dan Wakil Ketua BPPKB Kabupaten Bogor

Kami sudah banyak melakukan pelatihan-pelatihan mengenai perlindungan anak kepada guru BK, LSM, dan Dinas Terkait, kami menggunakan juga selling center contohnya: hipnotrapi tanpa diminta sudah gerak cepat ke lokasi. Selalu memberikan konseling juga. Langkah kedepan akan membangun klinik center / krisis center di tempat rawan, dan melakukan TOT ke Guru.

Kami ada Kelurahan yang telah mendukung Kabupaten / Kota Layak Anak (KLA), dan sudah terbentuk lingkungan yang ramah anak, puskesmas ramah anak telah terbentuk, taman bacaan anak, serta internet yang ramah untuk anak.

Kecamatan layak anak sudah terbentuk. Dari Kementerian ada sosialisasi jangan memperbesar bantuan hibah. Rumah Sakit Percontohan ada 2 Rumah Sakit, ruang tunggu ramah anak, laktasi ramah anak, ruang pemeriksanaan ramah anak. Kami juga telah terjun langsung ke masyarakat, dan melakukan tindakan prefentif,

Di kita ada fenomena anak 5 tahun di daerah Cibubur, sedang pegang HP berbentuk Android yang dia buka ternyata Youtube, dan setelah kami dekati ternyata benar yang sedang buka adalah video porno Youtube. Ini fenomena yang terjadi di masyarakat, fenomena ini tidak bisa dicegah, tetapi pola asuh yang baik yang harus dilakukan.

Kita juga bergerak bersama-sama, membentuk jaringan, multilevel, sehingga guru bisa memberikan perlindungan terhadap anak.

Setelah melihat fenomena tersebut, minimal kita masuk sosialisasi dari tingkat Taman Kanak-Kanak (TK). Kami juga melakukan uji kaji terhadap anak-anak pembinaan kami, kami arahkan anak-anak melalui metode ketika anak melihat gambar porno atau sejenisnya, mereka akan biasa saja. Dari kejadian yang terjadi ada kaitan video porno dan narkoba.

Dinsos Jabar:

Beberapa kegiatan yang telah kami lakukan:

  1. Melaksanakan seosialisasi Jelajah Jabar yaitu dari Kota Bandung (Gedung Sate), Cirebon, lalu ke wilayah Pangandaran sepanjang pantai melakukan sosialisasi terkait Jabar Tolak Kekerasan. Berkumpul dan melakukan arahan, apabila terjadi kasus.
  2. Memprogramkan penyuluhan sosial di 7 Kab/kota
  3. Kejadian kasus kita berkoordinasi dengan Kab/Kota melakukan pendampingan, di Banjar kami sudah kirim 3 Peksos dari Provinsi
  4. Untuk kasus yang terjadi di Kabupaten Bogor masih di Bareskrim, sehingga kita masih koordinasi untuk melakukan penanganan selanjutnya
  5. Kita juga melakukan penguatan keluarga untuk terjun ke lapangan

Pa Kanit – Polda Jabar

  1. Kanit TPPO
  2. Kanit Susiala
  3. Kanit Perlindungan Anak
  4. Kanit TKI

Kami sangat miris sekali terhadap kejadian-kejadian yang terjadi, anak menjadi korban, seperti di Kabupaten Bogor. Dari kami Subbid PPA mengharapkan kepada Dinas terkait kita mengambil langkah-langkah dari 2015 sampai sekarang. Tentunya kami menghimbau agar pemerintah daerah mengambil langkah-langkah penyuluhan-penyuluhan. Harapan kami bisa dikoordinasikan. Tindak pidana terkait perempuan dan anak di Provinsi Jawa Barat seluruhnya ada 404 kasus

Kepala BPPKB Kota Banjar

Atas kejadian kemarin sudah sebanyak 13 orang yang telah dikonseling, dari 13 muncul nama-nama 15 orang. Kami juga berkoordinasi dari tokoh masyarakat ditempat kejadian. Berdasarkan laporan korban bertambah terus.

Keprihatinan kita semua OPD belum terjun langsung, dan para korban 3 anak ada yang beum bisabaca-tulis padahal kelas 6. Ada 1 (satu) anak yang disunat dan dibiayayi oleh pelaku. Pekerjaan pelaku adalah petani, sudah lama ditinggal istri. Korban senang terhadap pelaku karena sering dikasih uang dan anak ayam. Pola sauh dari keluarga yang kurang, pendidikan agama yang kurang, ekonomi yang kurang, serta pendidikan yang kurang menyentuh ke masyarakat. Kami juga sudah punya Gugus Tugas tapi belum berfungsi secara optimal.

Pak Husin – Tokoh Masyarakat di TKP di Kota Banjar

Gambaran situasi kejadian awalnya saya bekerja sebagai Kepala Sekolah Swasta di daerah tersebut, ada 1 (satu) murid di sekolah lain (SMPN) ketahuan gurunya mencuri rokok dan uang, setelah ditanya oleh gurunya kenapa dia melakukan pencurian di menjawab kakek itu baik. Tetapi temannya ada yg bicara kakek tersebut bukannya baik, malah dia sering “digituin”, dari situ maka kejadian menyebar. Persitiwa ini awalnya dilakukan pada saat korban bersekolah di SD, rata-rata korban kelas 4/5 SD.

Dari kejadian tersebut anak yang sudah diperiksa oleh Polres sebanyak 15 (lima belas) anak, sedangkan di Polres ada data sebanyak 18 (delapan belas) anak. Setelah saya turun ke lapangan, didapat data ada 27 (dua puluh tujuh)  anak, jadi total ada 42 (empat puluh dua) korban anak, sedangkan pelaku berumur 75 tahun, pelaku sering membawa sepeda dan sudah lama diinggal oleh istrinya.

Untuk korban rata-rata duduk di bangku SD dan SMP, ada sekitar 3 SMP (2 Negeri dan 1 Swasta),  3 SD Negeri dan 1 MI Swasta. Korban ada yang DO bahkan tidak tamat SD. Kami mencoba menghubungi keluarga korban, tetapi mereka kurang merespon. Keluarga korban sebenernya sudah mengetahui pelaku sering ketemu dengan anaknya, suka ngasih uang ke anak mereka, suka kasih anak ayam juga, tetapi keluarga korban tidak curiga. Secara pendidikan hampir semua keluarga korban minim pendidikannya, secara ekonomi juga kurang, kesibukan mereka mayoritas masyarakat bertani, berbahasa Abangan.

Kriteria keluarga korban, ada salah satu keluarga korban yang orangtuanya bermasalah dimasyarakat, ada juga anak korban yang belum memiliki identitas (akta kelahiran), ada pula anak yang bukan dari pernikahan. Kejadian ini lebih cenderung bukan ke sodomi, kebanyak anak (korban) disuruh datang oleh pelaku, dan dilakukan oral oleh pelaku maupun sebaliknya.

Kepala BP3AKB Jabar

Kita mempunyai Motivator Ketahan Keluarga (MOTEKAR) sebanyak 667 orang di 314 desa. Para Motekar bisa mendata:

  1. Berapa anak yang putus sekolah?
  2. Tingkat pengangguran di Desa tersebut?
  3. Situasi perekonomian di Desa tersebut?
  4. Apakah penerangan jalan di Desa tersebut sudah cukup?
  5. Setiap tahun ada kejadin kekerasan atau tidak?

Sehingga setelah data diperoleh, bisa dipetakan apakah desa tersebut rawan kekerasan atau tidak. Kita juga saat ini tengah menyusun program data melalui input dpeta permasalah yang ada di Kab/Kota, sehingga Kab/kota bisa melihat peta masalah di daerahnya masing-masing.

Kepala Biro Bangsos

  1. Harus melakukan evaluasi kelembagan yang ada dengan kasus-kasus yang tejadi di Jawa Barat
  2. Melihat permasalahan ini tidak terbatas melibatkan pemerintah saja, tidak sebatas urusan kepolisisan saja, tetapi ini masalah bersama termasuk pemerintah dan swasta. Menyelesaikan masalah tidak cukup dengan tupoksi dan wewenang saja, harus ada tindakan yang nyata dan tegas untuk menanganinya.

Dinas Pendidikan Jabar

Yang harus dilakukan sekarang adalah gerakan. Untuk Jabar Tolak Kekerasan yang telah dilakukan Dinas Pendidikan adalah:

  1. Sosialisasi ke sekolah-sekolah berkoordinasi dengan Disdik Kab/Kota melalui pembelajaran karakter pada bidang studi, disisipkan pada ekstra kurikuler
  2. Ikrar Jabar Tolak Kekerasan dilakukan pada upacara setiap hari senin, ada juga yang dilakukan sebulan sekali,

Disdik memiliki Tim Khusus namanya “Tim Penanggulangan Anak-Anak Bermasalah” kita akan turun ke Banjar dan ke Kabupaten Bogor. Tentu yang akan dilakukan adalah menggerakan tim tersebut yang akan terjun langsung ke lapangan. Langkah awal setelah menerjunkan Tim tersebut adalah identifikasi permasalah dan kondisi anak korban tersebut, serta kebutuhan pendidikan buat si anak. Hasil identifikasi akan memunculkan hal apa yang harus dilakukan terhadap anak korban tersebut.

Dinas Kesehatan Jabar

Setelah adanya Deklarasi Jabar Tolak Kekerasan, kita melakukan monev ke Kab/Kota melakukan sosialisasi. Kita berupaya untuk meningkatkan layanan di puskesmas-puskesmas terhadap layanan-layanan yang berkaitan dengan kekerasan, dll. Saat ini Dinkes Jabar melakukan anatesa ke 15 anak korban di Kota Banjar, besok (tanggal 9 September 2016) rencananya akan melakukan pemeriksaan fisik. Alur yang sudah dilakukan oleh kita telah ada SOPnya, dan telah melakukan kerjasama lintas sektor.

Kegiatan yang telah dilakukan oleh Dinkes Jabar adalah:

  1. Penguatan jejeraing
  2. Orientasi Penjaringan Anak Usia Sekolah (pemeriksanaan kesahatan, dll)
  3. Monev di Kab/Kota

POINT Kepala BP3AKB Jabar :

Ini masalah kita bersama, yang terjadi atas kejadian saat ini awalnya muncul dari keluarga, setelah dari keluarga ada lingkungan sekitar, setelah lingkungan sekitar terdapat lingkungan sekolah. Kita harus fokus kepada solusi, dan perbaikan-perbaikan, data harus ada dan mudah diakses, sinergitas antara OPD harus terjalin lebih baik lagi. 

Rencana kegiatan yang akan dilaksanakan:

Bidang KPA:

Komunikasi Teman Sebaya Menjadi Konselor Sebaya di Kabupaten Bogor, peserta 80 anak kawasan puncak di Kabupaten Bogor

Bidang PKHPP:

Kegiatan Trafficking 100 orang peserta (camat, lurah, kepala desa, disdik, babinmas, kepolisian, kominfo, dinas pariwisata, pihak hotel, rencana dilksanakan tanggal 15 September 2016 di Kabupaten Bogor

Bidang KBKK:

Sosialisasi Penyelenggaraan Pembangunan Ketahanan Keluarga. Peserta 50 PNS dan 50 non PNS (BPPKB Kab/Kota, kader-kader Motekar, Kades, PKK, Camat, dll) dilaksanakan di Kota Banjar dan Kabupaten Bogor

DISDIK JABAR:

Kita komitmen apapun yang terjadi kepada anak urusan bersama.

DINSOS JABAR:

Untuk Kota Banjar – Akan turun kembali peksos dari Provinsi ke Kota Banjar. Nanti kita tetap turun untuk melakukan pendampingan.

Untuk Kabupaten Bogor – Kasus masih di Bareskrim, kita akan terus melakukan koordinasi dengan KPSA

DINKES JABAR:

Untuk Kabupaten Bogor – Akan kita koordinasikan dengan pimpinan

Untuk Kota Banjar – hari ini sudah bergerak dari kesehatan Provinsi ke sekolah, dan besok pemeriksaan fisik ke para korban. [irw]

Artikel Terkait

Kegiatan Pelatihan Forum Pengasuhan Anak Tingkat Provinsi Jawa Barat Dilaksanakan tanggal 25 sd 27 Oktober 2017 di EL Royal Hotel di Jalan Merdeka Bandung. Yang diundang berjumlah 80 orang. Yeti KPA BP3AKB: Kegiatan dilaksanakan selama 3 hari. Acara diawali laporan kegiatan oleh Kepala B...
Monitoring dan Evaluasi KLA Award ke Kabupaten Cianjur Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (BP3AKB) Provinsi Jawa Barat, Dewi Sartika melaksanakan monitoring dan evaluasi Kota/Kabupaten Layak Anak (KLA) Award ke Kabupaten Cianjur. Monitori...
Kebutuhan Mahasiswa dalam Satu Fakultas juga Perlu Analisis PPRG Kegiatan Sosialisasi Pengarusutamaan Gender (PUG) dan  Perencanaan dan Penganggaran yang Responsif Gender (PPRG) yang diselenggarakan oleh Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kota Bogor...
Partisipasi PEKKA di NTB Expo 2016 Penyelenggaraan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Tingkat Nasional ke-26 yang akan berlangsung pada 27 Juli - 7 Agustus 2016 di Mataram diisi Pameran Peradaban Islam (PPI) dan Nusa Tenggara Barat (NTB) Expo. Untuk NTB Expo ber...

Leave a Reply

Your email address will not be published.