BANDUNG-Kasus ini memang sudah menjadi perhatian yang sangat kuat dari bareskim polri sehingga langsung ditangani oleh bareskrim dan KPAI.

Menurut informasi yang  didapatkan, anak-anak yang menjadi korban ditangani di RPSA Bambu Apus Jakarta timur dan sebagiannya masih dilakukan penyelidikan. yang jelas jika kita melihat dari unsur yang ada pada kasus ini memang sudah memenuhi unsur Human Traficking atau perdagangan orang.

Hal demikian dikemukakan Netty, Kamis (1/9), dalam menanggapi peristiwa prostitusi anak yang terjadi di Bogor. Lanjut Netty, ada sejumlah anak yang kemudian dihubungi, dikumpulkan, diinfentarisai biodata kemudian dihadirkan atau diminta datang ketika ada pelanggan atau tamu yang mau atau membutuhkan, itu sudah memenuhi unsur Human Traficking. Jadi artinya, siapapun pelakunya dijerat dengan undang-undang yang berlaku dinegara ini, seperti UU ITE, UU pornografi dan juga UU no 21 tahun 2007 tentang pengawasan tindak pidana perdagangan orang.

Saya yakin KPAI sebagai lembaga negara sudah memiliki langkah-langkahnya termasuk upaya untuk melakukan rehabilitasi sosial untuk para korban, yang jelas rehabilitasi sosial ini sangat bergantung pada seperti apa kondisi psikologis korbannya.

Kalau traumanya berat tentu memerlukan waktu yang sangat panjang dan membutuhkan keterlibatan para ahli seperti psikolog, atau pendamping sepiritual. “Sehingga kita berharap mudah-mudahan program rehabilitasi sosialnya menjadi perhatian yang tidak ditinggalkan, selain menegakkan hukum, jelas Netty.”

Kita melihat lanjutnya, usianya memang usia rentan, usia labil karena rata-rata dibawah usia 16 tahun. Jadi anak-anak di usia itu memang anak-anak yang memerlukan perhatian, kasih sayang, dan juga pengawasan khusus dari orang tua, orang dewasa.

Jadi jika usia labil ini tidak dibarengi dengan perhatian, pengawasan dari orangtua tentu memang sangan rentan, sangat rapuh, mendapatkan tawaran dari berbagai pihak yang ingin memanfaatkan kerentanan usianya, kelemahan fisiknya, dan kekurangan pengetahuan dari para korban. Selain itu, kelihaian para pelaku juga turut memberikan andil, demikian Netty.
Sumber: Jabarprov.go.id

Artikel Terkait

Opening Ceremony Peparnas Hadirkan Pertunjukan Berbeda Dengan PON Opening Ceremony (Upacara Pembukaan) Pekan Paralimpik Nasional (Peparnas) XV/2016 akan digelar pada 15 Oktober 2016 di Stadion Siliwangi, Kota Bandung. Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar selaku Wakil Ketua Umum PB PON XIX...
3 Ribu Warga Ikut Mudik Gratis Pemprov Jabar Sebanyak 3 ribu warga ikuti mudik gratis yang diselenggarakan Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Program mudik gratis ini menjadi upaya untuk menekan kepadatan dan kecelakaan selama musim mudik berlangsung. Sabtu (17/6) ...
Netty: Kejadian Jamal Harus Jadi Pelajaran Semua Orang Tua Kasus Jamaludin Muhammad (6 tahun), bocah asal Garut, Kampung Cisante, Desa Cikarang, Kecamatan Cisewu yang kedua tangannya harus diamputasi karena remuk masuk dalam mesin penggiling bata, menjadi perhatian semua pejabat. Sal...
Awas, pedofil seringkali jadi sosok pelindung anak Kaum pedofil seringkali memposisikan diri sebagai sosok pelindung bagi anak, meski sejatinya itu modus kejahatan. Orangtua dalam hal ini perlu, bahkan wajib meluangkan waktu berbagi cerita bersama anak sekaligus membangun ...
Motekar Raih Penghargaan Top 99 Inovasi Terbaik Kemenpan RB SURABAYA–Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat meraih penghargaan TOP 99 Inovasi Terbaik se-Indonesia pada Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik yang digelar oleh Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birok...

Leave a Reply

Your email address will not be published.