Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menilai saat ini modus prostitusi yang melibatkan anak-anak telah semakin canggih. Hal itu lantaran adanya 18 aplikasi ‎yang digunakan komunitas gay untuk mengeksploitasi anak. Kasus tersebut diungkap Subdit Cyber Direktorat Tindak Pidana Ekonomi (Dittipideksus) Polri.

“Modus prostitusi anak saat ini semakin canggih. Penggunaan teknologi informasi sebagai media marketing eksploitasi seksual anak merupakan bentuk kejahatan serius yang memerlukan kehadiran negara‎,” kata Wakil Ketua KPAI, Susanto‎.

Prostitusi yang melibatkan anak, lanjut Susanto, tidak hanya memerlukan intervensi menyeluruh oleh seluruh stakeholder. Ia berharap, adanya edukasi yang dilakukan negara terhadap para penerus generasi mudanya.

“Kejahatan ini tidak hanya memerlukan intervensi kriminalisasi terhadap pelaku. Namun, perlu intervensi menyeluruh yaitu edukasi anak agar tidak menjadi korban, apalagi dalam banyak kasus korbannya anak usia sekolah,” papar Susanto.

Susanto mengimbau Kementerian Informasi dan Informatika di bawah pimpinan Rudiantara mampu memproteksi adanya praktik prostitusi yang melibatkan anak Indonesia yang berbasis internet.

“Selain itu, perlu peran Kementerian Komunikasi dan Informatika agar membangun sistem proteksi yang andal sehingga tak ada ruang sekecil apa pun bagi promosi prostitusi berbasis IT yang menyasar anak usia sekolah,” tegasnya.

Hati-hati, Satu dari 18 Aplikasi di Smartphone yang Banyak Digunakan Kaum Gay Mencari Mangsa

“‎Aplikasi ini bisa mendeteksi posisi korban ada di mana. Jadi di aplikasi ini, korban dengan konsumen bisa saling komunikasi”

Hati-hati, Satu dari 18 Aplikasi di Smartphone yang Banyak Digunakan Kaum Gay Mencari Mangsa
HNGN.COMAplikasi Grindr

Tim Cyber Crime Bareskrim Polri menemukan ada 18 aplikasi di smartphone yang kerap disalahgunakan untuk mengeksploitasi anak dibawah umur oleh para kaum gay.

Satu diantara aplikasi yang digunakan oleh jaringan prostitusi milik muncikari AR adalah Grindr. Aplikasi itu bisa mendeteksi keberadaan korban yang paling dekat dengan konsumennya.

“‎Aplikasi ini bisa mendeteksi posisi korban ada di mana. Jadi di aplikasi ini, korban dengan konsumen bisa saling komunikasi,” ujar Kanit Subdit Cyber Crime Bareskrim, AKBP Endo Prihambodo dalam dialog bertajuk ‘Menguak Tabir Prostitusi Anak’, di Jakarta Selaran, Kamis (15/9/2016).

Endo menambahkan di Indonesia, pengguna aplikasi itu ada ribuan orang. Sedangkan di dunia angkanya bisa mencapai jutaan pemakai.

“‎Di indonesia jumlah usernya ada ribuan, saya rasa kalau di dunia jumlahnya bisa jutaan,” imbuhnya.

Untuk diketahui, dalam kasus ini tersangka AR menggunakan aplikasi Grindr yang bisa mendeteksi mana korban Gay terdekat dari pelanggan.

Selain aplikasi Grindr yang bisa diunduh secara gratis di play store ‎ternyata ada 18 aplikasi lainnya yang digunakan oleh AR untuk melancarkan bisnisnya.

Di kasus ini, Bareskrim telah menetapkan empat tersangka yakni AR yang ditangkap lebih dulu di sebuah hotel di Cipayung, Puncak dan U serta E yang ditangkap di Pasar Ciawi, Jawa Barat.

Lalu tersangka keempat yang ditangkap di Bogor yakni SF,‎ berperan melakukan ekspoitasi dan menjual anak pada konsumen.

Sedangkan U berperan sama dengan AR yakni sebagai muncikari. Keduanya dari jaringan terpisah namun saling berhubungan.

Selanjutnya peran E yakni‎ pelanggan dari korban prostitusi dan E membantu AR membuka rekening bank atas nama E untuk menampung semuan hasil kejahatan dari AR.

Hingga kini korban dari sindikat AR ada 148 orang, terdiri dari pria dibawah umur serta yang sudah dewasa. Para korban ini tersebar di Puncak, Bogor, Bandung, bahkan hingga ke Jakarta.

Atas perbuatannya keempat tersangka ditahan di Bareskrim dan dikenakan pasal berlapis yakni UU ITE, UU Pornografi, dan UU Tindak Pidana Perdagangan Orang, dan UU Tindak Pidana Pencucian Uang.

Sumber: tribunnews.com
http://www.kpai.go.id/berita/kpai-modus-prostitusi-anak-semakin-canggih/

Artikel Terkait

Ibunya Bekerja Bisa Meningkatkan Prospek Karier Anak perempuannya dan Mendorong Anak... Ibu bekerja sering dibuat galau akan pilihan antara meneruskan karier dan keluarga. Jika ingin memilih tetap bekerja, umumnya Ibu khawatir tidak memiliki banyak waktu dengan keluarga sehingga kebutuhan anak terabaikan. IBU...
Tragedi Yuyun: Media Sosial, Pornografi dan Miras Baru-baru ini masyarakat Indonesia dihenyakkan oleh munculnya kasus tragis berupa pemerkosaan massal sekaligus pembunuhan. Korban mengalami kematian setelah diperkosa kolektif alias rame-rame (gang rape) disertai dengan keker...
KPAI: Sumpah Pemuda Jadi Momentum Perkuat Komitmen Indonesia Ramah Anak Hari Sumpah Pemuda memiliki banyak makna bagi kondisi Indonesia saat ini. Dari sisi perlindungan anak, Hari Sumpah Pemuda diharapkan menjadi momentum mewujudkan Indonesia ramah anak. “Semoga momentum peringatan hari ini da...
Bolehkah si Kecil Menonton TV? Entah dengan alasan kesibukan, atau sekadar mengisi waktu si Kecil, orangtua kerap memanfaatkan siaran TV maupun DVD edukasi anak-anak. “Nggak apa-apa deh, kan siarannya khusus untuk anak-anak, ada manfaat edukasinya kok,” mu...
Pelatihan TOT GN AKSA Bagi Kab/Kota se Jawa Barat Jatinagor,Bidang PPA Melalui Seksi Pencegahan Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak mengadakan pelatihan TOT Gerakan Nasional Anti Kejahatan Kekerasan Seksual terhadap Anak (GN AKSA) bagi Kabupaten Kota se Jawa Barat,Acara di...

Leave a Reply

Your email address will not be published.