Objek kekerasan seksual tidak lagi melanda orang dewasa. Remaja, bahkan anak-anak, pun menjadi incaran para pelaku pedofilia (gangguan jiwa cinta anak-anak). Yang miris, bahkan kekerasan seksual itu justru bisa terjadi di lingkungan yang kita anggap paling aman (selain keluarga) bagi anak-anak, yaitu sekolah. Tak bisa dipungkiri, kekerasan apapun (apalagi seksual) pasti akan menyisakan traumatik yang mendalam bagi sang korban (anak-anak).

Data dari National Sexual Violence Resource Center memperlihatkan, satu dari empat anak perempuan dan satu dari enam anak laki-laki berisiko mengalami pelecehan seksual sebelum mencapai usia 18 tahun. Sekitar 90 persen pelaku pelecehan masih mempunyai hubungan keluarga dengan korban atau berasal dari lingkungan terdekat seperti tetangga, teman keluarga, guru, dan pelatih olahraga. Pelaku kejahatan ini biasanya memiliki sikap yang sekilas terlihat baik, seperti misalnya hangat, penuh perhatian, penyayang, dan sopan, ujar Robin Sax, penulis buku Predators and Child Molesters. Sebelumnya, Sax pernah menjadi jaksa penuntut di Los Angeles yang khusus menangani kasus-kasus kejahatan seksual terhadap anak. Justru sifat-sifat seperti ini yang membuat mereka dapat terus melakukan aksi mengerikan itu, ujarnya lebih lanjut.

Baca juga Karakteristik Pelaku Pelecehan Seksual

Hal itu juga yang menjadi alasan mengapa strategi pencegahan yang selama ini disebarluaskan tampaknya tidak berhasil. Lagi pula, kebanyakan anak yang mengalami pelecehan seksual akan merahasiakan kejadian ini karena mereka bingung, takut, atau merasa bersalah. Peleceh kerap membuat korban merasa malu dan menjatuhkan harga diri mereka. Ia juga biasanya mengancam anak supaya mereka tak mengadukan kejadian itu ke orang lain, terang Anne Lee, pendiri Darkness to Light, sebuah lembaga non profit di Charleston, South Carolina. Lembaga ini didirikan guna mencegah terjadinya pelecehan seksual pada anak.

Atas dasar itu, penting bagi anak-anak kita untuk mengetahui bagaimana cara mencegah kekerasan seksual yang sewaktu-waktu menghampiri mereka. Hal ini penting dilakukan, sebab orang tua tidak selamanya bisa memantau keadaan sang anak, apalagi ketika sedang berada di lingkungan sekolah. Yang menjadi tanggung jawab, tentu saja adalah para guru. Jika para guru saja merupakan pelaku kejahatan seksual itu sendiri, maka tak ada jalan lain bagi sang anak untuk bisa mencegahnya sendiri. Setidaknya, mereka sudah diberitahu bagaimana caranya mencegah ketika kejahatan seksual itu hendak menghampiri mereka.

Membahas masalah seks pada anak memang tidak mudah. Namun, mengajarkan pendidikan seks pada anak harus diberikan agar anak tidak salah melangkah dalam hidupnya. Anak yang tidak tahu apa-apa tentang seks akan menjadi korban empuk berikutnya. Anak-anak yang kurang pengetahuan tentang seks jauh lebih mudah dibodohi oleh para pelaku pelecehan seksual. Sehingga  untuk melindungi anak dari segala sesuatu yang tidak diinginkan, amatlah penting memberikan edukasi khusus kepada anak. Pendidikan yang terkait adalah pendidikan seks dan pemberian informasi berbagai permasalahan yang berkaitan dengan upaya pelecehan seksual.

Pendidikan seks pada anak didefinisikan sebagai pendidikan mengenai anatomi organ tubuh yang dapat dilanjutkan pada reproduksi seksual. Dengan mengajarkan pendidikan seks pada anak, menghindarkan anak dari resiko negatif perilaku seksual. Karena dengan sendirinya anak akan tahu mengenai seksualitas dan akibat-akibatnya bila dilakukan tanpa mematuhi aturan hukum, agama, dan adat istiadat, serta kesiapan mental dan material seseorang.

Banyak orang tua merasa segan dan risi untuk membahas topik seks dengan anak-anak. Apalagi anak mungkin lebih risi lagi, dan kemungkinan besar dua masalah ini membuat lebih sulit untuk memulainya. Pendidikan seks wajib diberikan orangtua pada anaknya sedini mungkin. Tepatnya dimulai saat anak masuk play group (usia 3-4 tahun), karena pada usia ini anak sudah dapat mengerti mengenai organ tubuh mereka dan dapat pula dilanjutkan dengan pengenalan organ tubuh internal

Pelajaran sederhana yang bisa dilakukan adalah  mulai sejak dini dengan menyebutkan bagian-bagian tubuh. Sebaiknya dipakai bahasa yang benar, bukan bahasa anak-anak, untuk memperlihatkan kepada mereka bahwa tidak ada satu bagian pun dari tubuh mereka yang aneh atau memalukan.” Petunjuk untuk menghindari pelecehan menyusul dengan sendirinya. Banyak orang tua memberi tahu anak-anak bahwa bagian tubuh yang tertutup pakaian renang bersifat pribadi dan khusus.

Pendidikan seks lain yang secara tidak disadari sudah dilakukan adalah mengajari anak untuk membersihkan alat genitalnya dengan benar setelah buang air kecil (BAK) maupun buang air besar (BAB), agar anak dapat mandiri dan tidak bergantung dengan orang lain. Pendidikan ini pun secara tidak langsung dapat mengajari anak untuk tidak sembarangan mengizinkan orang lain membersihkan alat kelaminnya

Cara menyampaikan pendidikan seksual itu pun tidak boleh terlalu vulgar, karena justru akan berdampak negatif pada anak. Di sini orangtua sebaiknya melihat faktor usia. Artinya ketika akan mengajarkan anak mengenai pendidikan seks, lihat sasaran yang dituju. Karena ketika anak sudah diajarkan mengenai seks, anak akan kristis dan ingin tahu tentang segala hal.

Beberapa contoh kasus dalam pembelajaran pendidikan seks pada anak misalnya mengatakan bahwa alat kelamin atau  penisnya adalah milik pribadi, dan bukan mainan. Tidak boleh dijadikan mainan oleh siapa pun—Mama, Papa, bahkan dokter. Sewaktu kami membawanya ke dokter, saya menjelaskan bahwa dokter hanya mau memeriksa dan karena itu boleh memegangnya.” Kedua orang tua ikut dalam pembicaraan singkat ini dari waktu ke waktu, dan meyakinkan si anak bahwa ia bisa memberi tahu mereka kapan saja jika ada yang menyentuhnya dengan cara yang tidak benar atau yang membuatnya merasa risi. Para pakar dalam bidang pengasuhan anak dan pencegahan penganiayaan menyarankan agar semua orang tua mengadakan percakapan serupa dengan anak-anak mereka.

Anak-anak perlu tahu bahwa ada yang suka meraba anak-anak atau menyuruh anak-anak meraba mereka dengan cara yang salah. Peringatan ini tidak perlu membuat anak-anak cemas, ketakutan atau mencurigai semua orang dewasa. ”Itu semacam petunjuk kewaspadaan dan keamanan saja.

Dibeberapa negara yang sudah maju  para orangtua telah mendapatkan buku panduan mengenai pendidikan seks agar mereka dapat menjawab setiap pertanyaan yang diajukan anak. Sementara di Indonesia, karena belum ada, maka sebaiknya para orangtua sigap dengan mencari informasi mengenai pendidikan seks di internet, buku bacaan, koran  atau majalah.

Tindakan-tindakan pencegahan untuk menjaga anak-anak Anda sebaiknya dimulai sejak dini, karena jumlah kasus pelecehan pada anak mencakup anak prasekolah. Panduan berikut menyediakan berbagai topik sesuai umur untuk didiskusikan dengan anak Anda:

Panduan Pelajaran Seks Berdasarkan Usia

Usia 2-4 tahun

• Gunakan bahasa yang jelas.

Tak perlu mengganti istilah-istilah sensitif dengan kata-kata yang lebih halus, kata Robin Sax,  penulis buku Predators and Child Molesters. “Tak apa-apa menyebutkan kata vagina dan penis pada anak di rentang usia ini.” Efeknya, anak tak akan bingung dan bisa jadi lebih berani membicarakan kondisi yang berkaitan dengan alat kelaminnya sendiri.

• Beritahu bagian tubuhnya yang bersifat pribadi.

Artinya, bagian tubuh tersebut tak boleh disentuh oleh orang lain selain dirinya sendiri, orang tuanya, pengasuh (bila masih mengenakan popok), dan dokternya. Jika ada yang menyentuhnya selain orang-orang tadi, minta anak untuk memberitahu Anda dan katakan bahwa Anda tidak akan marah kepadanya.

• Waspadai sentuhan orang tak dikenal.

Terkadang, orang yang tak dikenal melihat anak Anda kemudian memuji betapa lucunya dia. Tak jarang tindakan itu dibarengi dengan mengusap rambut atau mencubit pipinya. Sekilas, tindakan ini tampak tidak berbahaya. Namun, ada baiknya Anda menjelaskan kepada anak bila ada orang tak dikenal menyentuhnya, sebaiknya segera menghindar atau menjauh dari orang tersebut.

• Jadilah tempat perlindungan bagi si kecil.

Lebih baik utarakan secara jelas kepada anak bahwa ia dapat bercerita apa saja kepada Anda. Termasuk saat ia merasa bingung atau takut akan sesuatu. Tegaskan bahwa Anda akan selalu ada untuk membantu dan menyayanginya.

• Bicarakan hal-hal yang bersifat seksual secara terbuka.

Misalnya jika suatu hari si kecil yang berusia 4 tahun bertanya dari mana datangnya bayi, berikan jawaban yang jujur dan sesuai dengan tingkat pemahamannya. Hindari berkata kepada anak bahwa ia belum cukup umur untuk mengetahui hal seperti itu atau melarangnya bertanya tentang hal-hal tersebut, anjur Robin Castle, manajer pencegahan pelecehan seksual terhadap anak di lembaga Prevent Child Abuse Vermont.

Usia 5-8 tahun

• Dukung batasan yang dibuat anak.

Jika si kecil menolak dipeluk atau dicium seseorang–meski masih termasuk keluarga–dukunglah tindakannya, alih-alih menegurnya. Cukup katakan kepada orang tersebut bahwa anak Anda sedang tidak mau dipeluk (mood), ujar Linda E. Johnson, direktur eksekutif Prevent Child Abuse Vermont, bagian dari Prevent Child Abuse Amerika.

• Hilangkan perasaan bersalah.

“Kita perlu menjelaskan kepada anak bahwa bukan salah mereka bila ada orang dewasa yang bersikap secara seksual terhadap mereka. Dan yakinkan mereka, jika ada yang bersikap seperti itu, anak dapat mengadu kepada Anda kapan saja,” ujar Jolie Logan, CEO Darkness to Light. Tindakan ini akan menangkal senjata utama para pelaku kejahatan, yaitu berusaha membuat anak malu dan takut.

• Ajarkan penggunaan internet yang aman.

Menurut para ahli, anak di rentang usia ini sesungguhnya terlalu muda untuk bermain internet tanpa pengawasan orang tua. Jadi, berikan batasan waktu baginya dalam menggunakan internet dan selalu awasi situs-situs yang ia buka. Jelaskan juga bahwa orang-orang yang dilihat atau dikenal anak di internet tak selalu sebaik yang ia kira, jadi ia tak boleh sembarangan membagi informasi atau bercerita kepada mereka. Dan jika ada orang yang mengirimkan pesan atau gambar yang membuat anak tak nyaman, minta anak untuk segera memberitahu Anda.

Usia 9 tahun ke atas

• Ajak anak bicara tentang seksualitas.

Menjelang fase remaja, anak bisa menjadi terintimidasi oleh teman-temannya–termasuk dalam hal-hal yang bersifat seksual. Agar anak tak beralih ke sumber informasi yang tak jelas, Anda perlu membuat anak merasa nyaman untuk membicarakan hal ini dengan Anda. Cari waktu yang tepat untuk membahas isu ini dengan santai dan tak membuatnya malu. Tak lupa, tegaskan bahwa jika ada orang yang berbuat tidak senonoh terhadapnya, itu bukan kesalahannya.

Tekankan keamanan diri sendiri. Diskusikan pemerkosaan, pemerkosaan saat kencan, penyakit menular seksual, dan kehamilan yang tidak diinginkan;

Berikan penjelasan sejak dini kepada anak tentang siapa saja orang dewasa yang juga dapat ia percayai (selain Anda) pada saat ia mengalami kejadian buruk seperti kekerasan seksual jika ia ragu bercerita pada Anda.

• Awasi penggunaan gadget.

Anak zaman sekarang mampu menggunakan gadget seperti ponsel, smartphone, serta video game dengan mudah, meski tidak pernah diajarkan sebelumnya. Oleh sebab itu, Anda perlu mengawasinya ketika sedang mengulik ponsel Anda. Yang ditakutkan adalah ia terkoneksi ke internet kemudian tanpa sengaja membuka situs-situs dewasa. “Banyak orang tua tak menyadari akan hal ini. Padahal dampaknya bisa jadi berbahaya terutama bagi perkembangan seksual anak,” terang Dr. Julie Medlin, PhD, yang bersama Seteven Knauts, PhD, menulis buku Avoiding Sexual Dangers: A Parent’s Guide to Protecting Your Child.

• Beritahu siapa orang dewasa yang dapat dipercaya.

Banyak anak yang merasa malu menceritakan kekerasan seksual yang pernah mereka alami kepada orang tua, ujar Sax. Hal ini sebenarnya wajar saja. Alih-alih merasa kecewa, lebih baik Anda memberi penjelasan sejak dini kepada anak tentang siapa saja orang dewasa yang dapat mereka percayai. Jadi seandainya kelak anak mengalami kejadian buruk seperti kekerasan seksual, ia dapat mengadukannya kepada seseorang, meski ragu bercerita kepada orang tuanya sendiri. Menurut hukum yang berlaku, orang dewasa yang mengetahui adanya kejadian kekerasan seksual wajib melaporkan peristiwa tersebut kepada pihak berwajib.

Rujukan:
www.parentsindonesia.com
http://www.wowmenariknya.com/2014/04/cara-mencegah-pelecehan-seksual-pada.html
http://www.eep-khunaefi.net/mencegah-pelecehan-seksual-pada-anak.html
https://www.facebook.com/notes/richard-yoka/pencegahan-dan-penanganan-kekerasan-seksual-pada-anak/10152592578292583/
bayiku.org
https://psikologiforensik.com/2014/12/17/menjaga-anak-anak-kita-dari-pelecehan-seksual/

Artikel Terkait

Penyerahan Bingkisan dari BAZNAS Provinsi Senin, 12/06/2017. Kepala Bidang Peningkatan Kualitas Keluarga (PKK) Dinas P3AKB Setya Mulayana secara simbolis menyerahkan bingkisan dari BAZNAS Provinsi Jawa Barat.
Hindari Fenomena BLAST dengan Budaya Literasi Bunda Literasi Jawa Barat Netty Heryawan khawatir anak-anak Jawa Barat mengalami fenomena BLAST (Bored, Lonely, Angry, Stress, Tired) yang berujung pada permasalahan sosial seperti kekerasan seksual dan narkoba pada usia prod...
PON XIX Jabar Tahun 2016, Resmi Ditutup Wakil Presiden Republik Indonesia, Jusuf Kala secara resmi menutup penyelenggaraan Pekan Olah Raga Nasional (PON) XIX Tahun 2016 di Jawa Barat, Kamis (29/9) malam, bertempat di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA). Eve...
Lagu Jabar Tolak Kekerasan Vokal : Nurzuchraeni & Hipni Mubarok A Arranger : M. Ropik Produksi : Sebelas Tekno Media - Garut --- Silakan lihat videonya di bawah ini https://www.youtube.com/watch?v=8hlQNmUdZyM&rel=0 --- Saat isak ...
Guru SD Kaget, Buku ‘Aku Berani Tidur Sendiri’ Bahas Masturbasi Inilah buku terbitan PT Tiga Serangkai yang menuai kontroversi (Radar Depok/Jawa Pos Grup) Dunia pendidikan lagi-lagi dikejutkan dengan buku berisikan materi tak patut. Di Depok, Jawa Barat, berbedar buku berjudul 'Aku...

Leave a Reply

Your email address will not be published.