Kejutan diberikan PB PON XIX Jabar dengan menghadirkan atlet cilik yang bertugas paling akhir membawa api PON. Atlet cilik bernama Lala Diah Pitaloka itu merupakan atlet karateka .

Lala Diah Pitaloka, anak berusia 11 tahun itu dipercaya sebagai penyulut api Pembukaan PON XIX Jawa Barat, Sabtu (17/9).

Lala Diah Pitaloka adalah atlet karate yang memegang juara di Internasional Karate di Jerman tahun 2015 lalu. Keberadaan Lala
berada di atas atlet senior lainnya yang juga pernah mengharumkan nama Indonesia di kancah inetrnasional.

Sebelum api sampai ke tangan Lala dalam proses penyulutan api PON, terlebih dahulu api akan dibawa lari berlekiling stadion GBLA oleh 17 atlet legenda Jabar. Antara lain Susi Susanti, Liliyana Natsir, Tontowi Ahmad, Ade Rai dan beberapa atlet lainnya.

Anak dari pasangan Idi Suhadiman dan Dian ini masih duduk di kelas 6 ini telah memilikisegudang prestasi pada cabang olahraga karate.

Ini Dia Sosok Lala Diah Pitaloka, Karateka Cilik Penyulut Api PON XIX/2016

Lala Diah Pitaloka (11) murid kelas VI Selokah Dasar Negeri Weragati, Kecamatan Palasah, Kabupaten Majalengka bakal menjadi penyulut api ke kalderon pada pembukaan PON XIX/2016, Sabtu (17/9/2016) besok.

Lalu siapakan Lala?
Lala lahir di Majalengka, 17 Mei 2005. Ia adalah karateka cilik yang sukses meraih juara internasional karate usia 10-12 tahun kategori kata (perorangan) pada kejuaraan International Banzai Cup Open Karate Championship 2015 di Berlin, Jerman pada Oktober 2015 lalu.

Kejuaraan karate internasional Banzai Cup Open Cup merupakan turname regular yang di selenggarakan oleh World Karate Federation (WKF-Sportdata di Sporthalle Charlottenburg, Berlin, Jerman. Pada penyelenggaraan tahun 2015, kejuaraan tersebut diikuti oleh 1.500 peserta dari 33 negara mulai dari usia U12 (di bawah 12 tahun) sampai dengan Senior (di atas 17 tahun).

Lala adalah anak pasangan Idi Sahidiman (40) dan Dian (35). Di kejuaraan tersebut, Lala adalah salah satu atlet karate yang mewakili atlet Indonesia. Ia berlaga di dua kelompok perseorangan dan beregu. Pada perseorangan Lala meraih medali emas namun di kelompok beregu kalah di babak 8.

Ditulis PRLM, sebelum mengikuti kejuaraan di Berlin, Lala yang mulai belajar karate sejak usia 7 tahun ini, mengikuti berbagai kejuaraan di tingkat daerah dan nasional, pertama dia mengikuti Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) tingkat Kecamatan, kemudian Kabupaten, Provinsi serta tingkat Nasional di Makasar, di samping mengikuti beberapa kejuaraan terbuka di sejumlah daerah dan memperkuat beberapa daerah di Jawa Barat.

Keterampilan bela diri yang dimiliki Lala diduga berasal dari orang tuanya Idi, namun orang tuanya pada bela diri silat.

Idi yang kini bekerja sebagai kepala keamanan di desa mengaku cukup bangga dengan anaknya, yang sejak usia 6 tahun sudah bercita-cita ingin menjadi juara dunia karate, padahal saat itu anaknya belum mulai berlatih.

Sumber: JabarProv.go.id, galamedianews.com

Artikel Terkait

5 Tips Berbelanja Nyaman dengan Anak Banyak orang-tua ingin membawa anaknya saat berbelanja. Kendalanya, tidak semua anak mudah diatur sesuai keinginan mereka. Banyak orang-tua ingin membawa anaknya saat berbelanja. Kendalanya, tidak semua anak mudah diatur s...
Geger Permen Dot Mengandung Narkoba Permen dot dalam kemasan botol diduga mengandung narkoba beredar di Kota Surabaya, Jawa Timur. Bahkan, pengungkapan kasus tersebut menjadi viral di media sosial. Sebelumnya, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Sura...
kreatifitas tisu, kertas koran dan limbah kaleng Kreatifitas tidak harus mahal, tapi perlu ide ide dan seniKertas koran bekas yg biasanya menjadi barang bekas untuk bungkus makanan bisa dirubah menjadi barang etnik dan unik.Komunitas peka dan IR antapani Bandung mengubah ke...
Ineu Sebut Momen Kartini Refleksi Kaum Perempuan Indonesia Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jawa Barat, Ineu Purwadewi Sundari menyebutkan bahwa momen peringatan Hari Kartini setiap tanggal 21 April sebagai momentum merefleksikan nilai-nilai kepribadian Kartini bagi kaum p...
Kasus Kekerasan Seksual Perempuan 300 Ribu per Tahun REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Jumlah kasus kekerasan seksual di Indonesia setiap tahun meningkat tajam mencapai 298.224 kasus atau hampir mencapai 300 ribu kasus per tahun, periode tahun 2013 hingga 2015. "Data Komnas Per...

Leave a Reply

Your email address will not be published.