Motivator Ketahanan Keluarga (MOTEKAR)

Untuk mengetahui berita kegiatan tentang Motekar, silakan klik di sini
Apa itu Motekar? Silakan lihat video berikut ini.

Motekar berasal dari Bahasa Sunda yang mengandung makna “mau berusaha untuk mengubah nasibnya”. Istilah ini diambil untuk memberikan dorongan bahwa makna mengubah nasib diri kaum perempuan dan keluarga pra-sejahtera dapat dilakukan melalui adanya kemauan dengan melakukan usaha (ikhtiar). Motivator Ketahanan Keluarga yang juga merupakan singkatan dari MOTEKAR, adalah Kader Pemberdayaan Masyarakat (KPM) berasal dari masyarakat desa/kelurahan setempat yang memiliki pengetahuan, kemauan, dan kemampuan memfasilitasi kegiatan pemberdayaan keluarga prasejahtera dan perempuan untuk meningkatkan kualitas hidupnya agar lebih baik.

Peran Kader Pemberdayaan Masyarakat (KPM) dalam fasilitasi pemberdayaan perempuan dan keluarga pra-sejahtera berfungsi antara lain:

  1. Mempercepat perubahan (Enabler)yaitu membantu kaum perempuan untuk mengidentifikasikan masalahnya dan mengembangkan kapasitas diri agar dapat menangani masalah yang dihadapi.
  2. Perantara (Mediator), yaitu melakukan mediasi individu/kelompok dalam keluarga yang membutuhkan bantuan pelayanan apabila terjadi konflik.
  3. Pendidik (Educator), yaitu secara aktif memberikan berbagai masukan yang positif, membangkitkan kesabaran individu/kelompok kaum perempuan dalam kehidupan keluarga.
  4. Perencana (Planner), yaitu mengumpulkan data mengenai permasalahan dalam kehidupan keluarga, kemudian dianalisa dan memberikan alternatif tindakan yang rasional.
  5. Advokasi (Advocation), yaitu memberikan advokasi atau mewakili kelompok perempuan yang membutuhkan bantuan/pelayanan dan mendorong para pembuat keputusan untuk mau mendengar, mempertimbangkan dan peka terhadap kebutuhan kaum perempuan dalam kehidupan keluarga.

Tujuan MOTEKAR

Tujuan Umum dalam kebijakan program fasilitasi Kader Pemberdayaan Masyarakat sebagai tenaga Motivator Ketahanan Keluarga (MOTEKAR) adalah menyatu-padukan pola pembinaan keluarga dan pemberdayaan perempuan yang berorientasi pada peningkatan kualitas hidup sejahtera lahir dan batin yang melibatkan partisipasi masyarakat dan lembaga terkait dalam semua tingkatan.

Tujuan Khusus dalam kebijakan program fasilitasi Kader Pemberdayaan Masyarakat sebagai tenaga MOTEKAR dalam pembangunan kesejahteraan keluarga di Jawa Barat antara lain :

  1. Meningkatkan kualitas hidup keluarga pra-sejahtera menjadikan keluarga sejahtera di Jawa Barat.
  2. Mengoptimalkan peran perempuan dalam ketahanan keluarga, baik dari aspek pendidikan, sosial, ekonomi, budaya, dan politik agar memiliki keberdayaan diri dalam kehidupan keluarga dan masyarakat.
  3. Mengembangkan pola-pola pengkaderan tenaga MOTEKAR sebagai Kader Pemberdayaan Masyarakat di tingkat kelurahan/desa untuk memfasilitasi berbagai permasalahan dalam keluarga pra-sejahtera.
  4. Mendorong sinergitas program fasilitasi Kader Pemberdayaan Masyarakat sebagi tenaga MOTEKAR dengan program lain yang memiliki keterkaitan yang dilakukan SKPD pada tingkatan pemerintahan provinsi dan kabupaten/kota di Jawa Barat
  5. Meningkatkan kapasitas pelaku masyarakat dan aparatur pemerintahan pada tingkatan desa/kelurahan di Jawa Barat.

Sosok MOTEKAR

  • Motivasi tinggi
  • Keinginan untuk belajar
  • Idealisme
  • Memahami situasi dankondisi desa/masyarakat dengan baik
  • Memiliki hubungan baik dengan masyarakat/tokoh masyarakat
  • Peduli dengan masalah sosial
  • Menghargai dan berempati terhadap orang lain
  • Sehat secara fisik dan mental
  • Membangun motivasi
  • Meningkatkan pengetahuan
  • Meningkatkan keterampilan
  • Menciptakan kontak/hubungan yang baik

Tugas dan Peran MOTEKAR

  • Memfasilitasi
  • Membangun proses kegiatan di masyarakat
  • Memberi pelajaran
  • Memberi masukan berupa nilai, pengetahuan, teknologi dan pengalaman kepada masyarakat.
  • Menjadi penghubung
  • Membangun relasi dengan berbagai sumber, pihak dan lembaga yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat dampingannya.
  • Mengelola hal teknis
  • Mengelola langkah-langkah atau tahap-tahap program, mulai dari penjajakan kebutuhan sampai ke monitoring.

MOTEKAR Keluarga Berkualitas

(Perda Provinsi Jawa Barat Nomor 9/2014)

Kondisi keluarga yang mencakup aspek pendidikan, kesehatan, ekonomi, sosial budaya, kemandirian keluarga, dan mental spiritual serta nilai-nilai agama yang merupakan dasar untuk mencapai keluarga sejahtera.

Keluarga sejahtera merupakankeluarga yang dibentuk berdasarkan atas perkawinan yang sah, mampu memenuhi kebutuhan hidup spiritual dan material yang layak, bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, memiliki hubungan yang serasi, selaras dan seimbang antar anggota keluarga dan antara keluarga dengan masyarakat dan lingkungan.

Pengertian Ketahanan Keluarga

  1. Ketahanan keluarga adalah kemampuan keluarga untuk mengelola sumber daya dan masalah yang dihadapi keluarga agar keluarga sejahtera yaitu terpenuhinya kebutuhan seluruh anggota keluarga (Sunarti 2001).
  2. Ketahanan keluarga menurut UU No. 10 Tahun 1992 merupakan kondisi dinamik suatu keluarga yang memiliki keuletan dan ketangguhan, serta mengandung kemampuan fisk-material dan psikis mental spiritual guna hidup mandiri, dan mengembangkan diri dan keluarganya untuk hidup harmonis dan meningkatkan kesejahteraan lahir dan batin (BKKBN 1992).

Mengapa Penting?

  1. Keluarga merupakan unit dasar masyarakat yang berperan penting dalam menghasilkan SDM yang berkualitas.
  2. Kapasitas keluarga mempunyai keberfungsian dan keberlangsungan masyarakat.
  3. Banyak masalah sosial yang terjadi berawal dari kegagalan/ketidakberfungsian keluarga sehingga menimbulkan berbagai implikasi sosial, ekonomi, dsbnya. Contoh: tawuran, kekerasan terhadap anak, seks bebas dan penyalahgunaan NAPZA di kalangan remaja, dll.

Komponen Ketahanan Keluarga

  • Ketahanan Fisik

Ketahanan fisik berkaitan dengan kemampuan ekonomi keluarga yaitu kemampuan anggota keluarga dalam memperoleh sumber daya ekonomi dari luar sistem keluarga untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti pangan, sandang, perumahan, pendidikan dan kesehatan.

  • Ketahanan Sosial

Merupakan kekuatan keluarga dalam penerapan nilai agama, pemeliharaan ikatan dan komitmen, komunikasi efektif, pembagian dan penerimaan peran, penetapan tujuan serta dorongan untuk maju, yang akan menjadi kekuatan dalam menghadapi masalah keluarga serta memiliki hubungan sosial yang positif.

  • Ketahanan Psikologis

Kemampuan anggota keluarga untuk mengelola emosinya sehingga menghasilkan konsep diri yang positif dan kepuasan terhadap pemenuhan kebutuhan dan pencapaian tugas perkembangan keluarga.Kemampuan mengelola emosi dan konsep diri yang baik menjadi kunci dalam menghadapi masalah-masalah keluarga yang bersifat non fisik (masalah yang tidak berkaitan dengan materi seperti masalah kesalahpahaman, konflik suami dan istri, dsb).

Fungsi Keluarga

  1. Fungsi keagamaan
  2. Fungsi Sosial Budaya
  3. Fungsi Cinta Kasih
  4. Fungsi Melindungi
  5. Fungsi Reproduksi
  6. Fungsi Sosialisasi dan Pendidikan
  7. Fungsi Ekonomi
  8. Fungsi Pembinaan Lingkungan

Tugas Keluarga

Keluarga memiliki tugas dasar, tugas perkembangan dan tugas krisis yang harus dijalani dengan sukses agar mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan.

Kesejahteraan Keluarga

Keluarga yang dibentuk berdasarkan atas perkawinan yang sah, mampu memenuhi kebutuhan hidup spiritual dan materiil yang layak, bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, memiliki hubungan yang serasi, selaras dan seimbang antar anggota dan antara keluarga dengan masyarakat dan lingkungan.

Keharmonisan Keluarga

Kondisi keluarga yang menunjukkan interaksi antar anggota keluarga yang baik, selaras, serasi dan seimbang.Suasana keluarga yang ramah, akrab, hangat dan bahagia.

Manajemen Sumber Daya Keluarga, Interaksi Keluarga, Kelentingan Keluarga dan MAnajemen Stress Keluarga

Manajemen Sumber Daya Keluarga

Kemampuan keluarga mengelola sumber daya manusia, sumber daya materi dan uang serta sumber daya waktu.Sumber daya keluarga tidak selalu harus dimiliki keluarga, anmun bagaimana keluarga dapat mengakses berbagai sumber daya di luar sistem keluarga untuk dibawa ke dalam sistem keluarga.

Interaksi Keluarga

Hubungan aksi reaksi dan komunikasi antar anggota keluarga yaitu antar pasangan suami istri, antar orang tua dengan anak, antar anak dan antar anggota keluarga dari generasi yang berbeda.

Kelentingan Keluarga

Kemampuan keluarga untuk bangkit dari keterpurukan dan kenelangsaan dan kembali memperoleh sumber daya untuk mengejar tujuan hidup. Kemampuan keluarga tersebut berkaitan dengan:

  1. Sistem kepercayaan
  2. Pola organisasi
  3. Proses komunikasi dalam keluarga

Manajemen Stress Keluarga

Kemampuan keluarga menangani masalah, menangani tekanan atau stressor agar tidak menyebabkan distress.

Strategi Penguatan Ketahanan

  1. Memfasilitasi dukungan kepada pasangan yang akan menikah
  2. Memfasilitasi dukungan kepada keluarga
  3. Memperkuat keluarga
  4. Mengobservasi gejala awal krisis dalam keluarga
  5. Merespon kondisi krisis yang dialami keluarga
  6. Menghubungkan keluarga dengan sistem sumber dukungan & layanan
  7. Menghargai & mendukung orang tua
  8. Resiliensi orang tua
  9. Koneksi & dukungan sosial
  10. Pengetahuan tentang pengasuhan dan perkembangan anak
  11. Pengetahuan mengenai tahapan dan dinamika pernikahan/kehidupan keluarga
  12. Dukungan konkrit pada saat dibutuhkan
  13. Kompetensi sosial dan emosional anak
  14. Penguatan keluarga
  15. Pertumbuhan anak yang optimal
  16. Pencegahan perlakuan salah

Cara Meningkatkan Ketahanan Keluarga dan Dampak Positif Keluarga yang Memiliki Ketahanan

Cara Meningkatkan Ketahanan Keluarga

  1. Pembangunan pendidikan secara luas kepada masyarakat dan optimalisasi fungsi keluarga. Di samping itu, perhatian pada sektor ekonomi juga harus diperhatikan agar keluarga menjadi tahan dan sejahtera. Ketahanan ekonomi yang dimaksud adalah keluarga memilki sumber pendapatan yang dapat memenuhi semua kebutuhan keluarga.
  2. Pendidikan merupakan faktor yang sangat menentukan terbentuk dan terpeliharanya ketahanan keluargayang dilandasi oleh penghayatan yang mendalam terhadap ajaran agama.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa lama pendidikan, jumlah anak, lama menikah, pendapatan dan manajemen sumber daya keluarga berhubungan dnegan katahanan keluarga. Hal tersebut menunjukkan bahwa pendidikan tinggi, pemenuhan pendapatan, usia lama pernikahan sebagai bagian dalam pemenuhan kematangan dalam menjalani kehidupan keluarga.Jumlah anak dan pengelolaan sumber daya keluarga yang optimal dapat menghantarkan pada keluarga yang tahan.

Dampak Positif Keluarga yang Memilki Ketahanan

  1. Keluarga berpeluang besar untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai yaitu keuarga yang bahagia, harmonis, sejahtera bahkan berkualitas.
  2. Keluarga lebih mudah (tidak menghadapi kesulitan berarti) dalam menghadapi kondisi atau situasi darurat.
  3. Keluarga akan lebih mudah beradaptasi terhadap berbagai perubahan situasi dan kondisi, khususnya yang tidak diinginkan.
  4. Keluarga berkontribusi melahirkan SDM yang baik, generasi penerus bangsa yang menjadi sasaran pembangunan nasional.
  5. Keluarga memilki kesempatan yang besar untuk berkontribusi dalam membangun lingkungan sosial yang sehat dan harmonis.
  6. Keluarga berkontribusi dalam pembangunan bangsa dan negara.

Pengasuhan Anak Berbasis Masyarakat

Fungsi Pengasuhan Anak Berbasis Masyarakat

  1. Pemberian kasih sayang yang seharusnya didapat dari keluarga
  2. Penanaman nilai-nilai dan norma kehidupan
  3. Pengembangan segenap potensi anak
  4. Pembentukan dan pembiasaan perilaku-perilaku yang diharapkan
  5. Pengembangan pengetahuan dan keterampilan dasar
  6. Pengembangan motivasi dan sikap belajar yang positif

Community Development

“Suatu cara untuk memperkuat warga masyarakat, mendidik mereka melalui pengalaman yang terarah agar mereka mampu melakukan kegiatan berdasarkan kemampuan sendiri untuk meningkatkan kualitas kehidupan mereka sendiri pula.”

Community Development adalah bekerja bersama masyarakat sehingga mereka dapat mendefinisikan dan menangani masalah, serta terbuka untuk menyatakan kepentingan-kepentingannya sendiri dalam proses pengambilan keputusan.

Penerapan Community Development lebih ditekankan kepada upaya untuk mengembangkan kapasitas warga masyarakat (client-centered) daripada pemecahan masalah (problem-centered).
5 (Lima) Langkah Asset-Based Community Development:

  1. Discovery (temukan kembali kekuatan yang ada di masyarakat yang selama ini disimpan atau tak disadari keberadaannya).
  2. Dream (ajak masyarakat bayangkan mimpinya)
  3. Design (rencanakan unsur yang harus ada untuk wujudkan mimpi)
  4. Define (tentukan bagaimana cara gunakan kekuatan untuk wujudkan mimpi)
  5. Destiny (memastikan bahwa apa yang mereka rencanakan benar-benar dilaksanakan)