Ilustrasi perselisihan orangtua dan anak. (Sumber superbabyonline.com)

Pernah kebingungan mengapa anak menjadi sangat manja, tidak mandiri, dan mau menang sendiri? Apakah kita telah salah kaprah mendidik anak?

Dikutip dari laman stasiun WHIO, seorang dokter keluarga, psikolog, sekaligus penulis bernama Leonard Sax ingin agar orangtua mengetahui bahwa mereka telah mendidik anak secara salah.

Penulis buku Boys Adrift dan Girls on the Edge ini baru saja menulis sebuah buku lagi, The Collapse of Parenting: How We Hurt our Kids When We Treat them Like Grown-Ups—diterjemahkan secara bebas demikian “Ambrukya Pengasuhan Orangtua: Bagaimana Kita Menyakiti Anak Ketika Memperlakukan Mereka Seperti Orang Dewasa.”

Katanya, “Kebanyakan orangtua di Amerika benar-benar bingung dan jelas salah arah. Ada pengertian yang amburadul tentang apa yang terlibat dalam pengasuhan orangtua.”

Dalam bukunya, Sax membeberkan suatu pengalaman di mana orangtua dan anak berusia 6 tahun yang sedang menderita radang tenggorokan datang ke tempat praktiknya.

Ketika ia berkata, “Berikutnya, saya akan memeriksa tenggorokanmu”, sang ibu malah meminta izin terlebih dahulu kepada anaknya, “Keberatankah kamu kalau dokter melihat ke dalam tenggorokanmu sebentar saja, sayang? Sesudah ini kita bisa mencari es krim.”

Hal itu menyebabkan sang anak menolak dokter melihat tenggorokannya untuk uji bakteri strep sehingga anak itu terpaksa dipegang erat agar bisa diuji.

Lanjut dokter itu, “Itu bukan pertanyaan. Itu adalah kalimat, ‘Bukalah dan katakan,’Aaa.’”

“Orangtua tidak sanggup untuk berbicara kepada anak dalam kalimat yang diakhiri dengan titik. Setiap kalimat malah diakhiri dengan tanda tanya,” lanjutnya.

Menurutnya, sejumlah pakar pengasuhan menganjurkan orang dewasa bahwa mereka harus menawarkan pilihan-pilihan kepada anak dan bukannya mengatakan apa yang harus dilakukan, dan sayangnya orangtua mempercayai mereka.

“Orangtua sekarang merasa bahwa tugas mereka adalah untuk memberikan apa pun yang diinginkan seorang anak.” Sebalikya, kata Sax, tugas orangtua adalah untuk mengajarkan yang benar daripada yang salah, mengajarkan arti kehidupan dan memastikan anak mereka aman.

“Dalam melakukan tugas itu, orangtua akan melakukan banyak hal yang tidak disetujui dan tidak dimengerti anak,” katanya. Terkadang kita harus menjadi orang jahat.

Menurut Sax, orangtua harus fokus membantu anak untuk mengembangkan sejumlah kemampuan seperti pengendalian diri, kerendahan hati, dan berhati-hati. Artinya, mereka memikirkan juga orang selain diri mereka.

Hal-hal itulah yang menjadi faktor utama keberhasilan masa depan ketika dewasa, katanya, bukan sekadar pendidikan atau kekayaan.

Sax mengatakan bahwa inilah generasi orangtua yang meluangkan lebih banyak waktu mengantarkan anak dari satu kegiatan ekstra kurikuler ke kegiatan ekstra kurikuler lainnya atau bahkan meluangkan waktu membuatkan tugas anak-anak mereka.

Ujarnya, “Tidak ada manfaatnya meluangkan waktu bersama anak kalau diluangkan dengan cara yang salah.”

Dalam bukunya, Sax mencontohkan sejumlah penelitian yang mengungkapkan bahwa kurangnya wibawa orangtua menyebabkan meningkatnya obesitas, semakin banyaknya anak yang minum obat anti-kecemasan dan kurang perhatian (attention deficit), menyebabkan anak memiliki budaya kurang menghormati, tampak rentan, dan anak-anak Amerika tidak lagi berprestasi dalam bidang pendidikan.

Jalan Keluar

Sax menawarkan sejumlah jalan keluar:

Lakukan makan bersama dan jadikan itu prioritas utama. Katanya, “Anda harus mengomunikasikan bahwa waktu bersama sebagai orangtua dan anak lebih penting daripada yang lain-lain.”

Suatu penelitian mengungkapkan bahwa dengan setiap tambahan kejadian makan bersama sebagai keluarga, semakin berkuranglah anak menyerap masalah-masalah seperti kecemasan atau melampiaskan masalah, misalnya bolos sekolah. Hal itu juga membantu anak mengembangkan kebiasaan baik soal gizi sehingga mengurangi masalah obesitas.

Keluarkan perangkat elektronik dari kamar tidur. Ini termasuk telepon genggam, komputer, televisi, dan permainan video. Anak-anak kekurangan tidur secara kronis, sehingga mengundang perilaku buruk dan bahkan dapat menjadi alasan mengapa anak-anak mendapat diagnosis kesehatan mental.

Tempatkan layar di ruang bersama dan batasi pemakaiannya. Generasi ini hidup di dalam dunia maya. Teman online dapat menjadi lebih penting daripada teman yang ditemui dalam dunia nyata.

Mereka jadi tidak paham caranya berkomunikasi tatap muka atau memiliki minat dan kegemaran luar ruang.

Permainan video juga mengganti tatanan sambungan kerja otak. Lagipula, apapun yang mereka unggah secara daring tidak akan pernah pergi. Pasanglah perangkat lunak semisal My Mobile Watchdog, yang membagikan kepada kita setiap foto yang mereka ambil atau unggah.

Ajarkan kerendahan hati. Berikan pelajaran yang menunjukkan anak-anak bahwa mereka bukanlah orang paling penting di dunia. Mereka perlu melihat dunia melalui pandangan pihak lain dan mampu menangani penolakan ataupun kegagalan. Tidak bisa “semuanya mendapatkan hadiah.”

Kerja sama antara sekolah dan orangtua. Jika anak melakukan sesuatu, jangan mendatangi guru atau pengurus sekolah dengan kecurigaan ataupun rasa tidak percaya. Kata Sax, “Orangtua bergegas ke sekolah seperti seorang pengacara yang meminta bukti.” Sebaliknya, tegakkan pelajaran tentang kejujuran dan integritas. Artinya, seorang anak pintar yang berlaku curang akan mendapatkan nilai “0”.

Awasi apa yang mereka lakukan. Anak remaja 14 tahun tidak boleh pergi pesta besama para mahasiswa atau pergi ke pantai pada saat libur musim semi. (Libur musim semi di AS kerap diisi dengan kegembiraan yang tidak pantas untuk anak di bawah umur).

Mereka tidak boleh pergi ke pesta dengan sajian alkohol dan kita juga tidak memberikannya kepada mereka. Pikirkanlah kemungkinan terburuk semisal mengemudi selagi mabuk, keracunan alkohol dan serangan seksual, dan sadarilah bahwa ini semua bukanlah keputusan yang siap mereka lakukan karena mereka belum dewasa.

Mereka perlu orang dewasa dan itulah kita. Dan bahkan kalau sesama orangtua merasa tidak masalah dengan sesuatu hal, kita tidak perlu ikut-ikutan. Kata Sax, “Orangtua lain mungkin tidak menyadari apa yang mereka lakukan. Itu sebabnya hal-hal yang mereka lakukan tidak memberikan hasil yang baik.”

Sejumlah hal tersebut, apalagi kalau baru bagi kita atau keluarga kita, bisa susah dan mungkin sulit diterapkan. Sax menganjurkan kegigihan dan komitmen. Katanya, “Anak-anak kita akan berterima kasih, mungkin bukan hari ini atau besok, tapi suatu hari nanti.”

Sumber: liputan6.com

Artikel Terkait

Lindungi Si Kecil dari Pornografi (2) Delapan Ciri Kecanduan Bagaimana mengetahui anak sudah adiktif terhadap pornografi? Yang pertama, anak menghabiskan  waktu lebih banyak dengan perangkat teknologi, seperti internet, games atau HP. "Anak juga gampang marah...
Yohana: Hari Ibu Jadi Momentum Galang Persatuan dan Kesatuan Pemerintah menggelar puncak peringatan Hari Ibu di Serang, Banten. Tahun ini, peringatan Hari Ibu mengangkat tema 'Kesetaraan perempuan dan laki-laki untuk mewujudkan Indonesia bebas dari kekerasan terhadap perempuan dan anak...
Pelajar Asal Garut Dinobatkan Sebagai Duta Anak Jabar GARUT, (PR).- Seorang pelajar Madrasal Aliyah/Pesantren Mualimin Persis 76 Garut, Yudhistira Adrianto terpilih menjadi Duta Anak perwakilan Provinsi Jawa Barat di perhelatan Hari Anak Nasional 2018 di Kota Surabaya, Jawa Timu...
Kenapa Remaja Rentan Bunuh Diri? Ini Alasannya MASIH teringat dengan kasus bunuh diri vokalis Linkin Park Chester Bennington yang sempat menghebohkan jagat raya. Maraknya kasus bunuh diri di kalangan orang dewasa mengindikasikan berbagai masalah hidup yang tak bisa mereka...
Di Hari Anak Nasional Ada 10 Permintaan Anak ke Presiden Jokowi Presiden Jokowi dan Ibu Negara Iriana menghibur dan membagi buku bacaan kepada anak korban gempa di tenda pengungsian Ringblang Meurdu, Pidie Jaya, Aceh, 15 Desember 2016. Sebanyak 83.838 jiwa pengungsi diupayakan bisa secepa...

Leave a Reply

Your email address will not be published.