Mempunyai anak usia remaja terkadang memunculkan dilema tersendiri. Semakin kompleksnya hubungan pertemanan saat remaja, terkadang membuat orang tua harus berpikir keras bagaimana harus bertindak.

Sejumlah studi telah menunjukkan bahwa gangguan perilaku meningkat pada anak ketika mereka mulai bergaul dengan remaja berperilaku buruk dan berbahaya. Ketika remaja, pengaruh pertemanan bisa mengalahkan pengaruh keluarga, perhatikanlah baik-baik dengan siapa anak Anda berteman.

Ada 3 alasan mengapa anak-anak mengikuti pengaruh negatif teman-temannya:

1. Rendahnya kepercayaan diri
Pemuda yang merasa tidak percaya diri mendambakan rasa diterima oleh teman-temannya. Mereka kurang dalam hal percaya diri dan identitasnya. Ini membuat mereka lebih rentan terhadap pengaruh negatif. Memilki teman dengan penampilan yang kuat secara sosial sangat menarik. Dengan kata lain, remaja yang kurang percaya diri akan mencari teman yang memiliki apa yang menjadi kekurangan mereka.

2. Tidak adanya orang dewasa yang menjadi panutan
Remaja butuh memilki hubungan positif dengan orang dewasa lainnya selain keluarga. Ketika anak-anak muda kurang mempunyai panutan, mereka akan berpaling kepada teman-temannya untuk membimbing mereka. Ini menciptakan ketidakseimbangan dalam pertemanan, yang membuat mereka terjebak dalam belas kasihan dari teman-teman yang mereka pilih, khususnya teman-teman yang kurang bermoral.

3. Buruknya hubungan dengan orang tua
Para remaja umumnya akan menjauhi rumah yang dipenuhi konflik. Intinya, semakin parah perpecahan yang terjadi di rumah, semakin besar pula pengaruh yang diperoleh dari teman. Kemarahan remaja kepada orang tuanya selalu menjadi pendorong perilaku destruktif dan terbawa pertemanan yang ceroboh.

Dengan semakin kompleksnya hubungan pertemanan saat remaja, terkadang membuat orang tua harus berpikir keras bagaimana harus bertindak.

Apa yang harus dilakukan?

Jika anak remaja bergaul dengan grup yang salah, pertimbangkan bahwa yang menjadi penyebabnya adalah ketidakseimbangan internal; sebuah gejala untuk masalah yang lebih serius.

Sebelum ‘berperang’ dengan anak Anda mengenai pilihan teman-temannya, Anda harus mengetahui risiko yang dihadapi: yaitu risiko menimbulkan rasa memberontak dan — suka atau tidak — lebih menguatkan hubungan pertemanan anak dengan teman-temannya yang kurang baik itu.

Walaupun melarang bisa menjadi pilihan, pertimbangkan beberapa pilihan cara berikut yang dilansir dari laman Parenting.

1. Periksa kebutuhan anak
Apa yang kurang? Apakah si anak bergabung dengan klub sekolah atau olahraga? Apakah dia memiliki sarana untuk menyalurkan kreativitasnya? Carilah tempat beraktivitas untuk mereka bisa membangun harga diri dari kumpulan orang-orang yang dapat memotivasi dirinya. Daripada berusaha mencoba menyingkirkan temannya yang buruk, berikanlah pengaruh positif yang lebih dihidup anak Anda.

2. Carilah bantuan bagi diri Anda sendiri
Ceritakanlah keprihatinan Anda dengan pasangan Anda, teman, atau sesama orang tua. Beritahulah ketakutan Anda, bertukar pikiran, dan carilah masukan positif. Berbicara dengan orang tua yang berhasil melewati masa remaja anaknya, akan sangat membantu. Anda akan mendapatkan kenyamanan yang luar biasa ketika berbicara dengan orang yang mengetahui apa yang Anda lalui dan bisa membawa Anda ke arah yang lebih baik.

3. Jaga agar hubungan tetap positif
Ada sebuah studi yang mengungkapkan bahwa para remaja yang mempunyai hubungan yang positif dengan orang tuanya, 60 persen kemungkinan lebih kecil mereka terlibat dalam aktivitas kurang baik. Artinya, sangat vital Anda menemukan cara untuk tetap erat dengan anak Anda dengan cara menghabiskan waktu bersama dengannya, mencoba lebih banyak mendengarkannya daripada memberitahunya, dan mencari aktivitas yang dapat Anda nikmati berdua dengannya. Ingat, mendengarkan mempunyai pengaruh lebih besar dibanding nasihat atau kritikan Anda yang tidak mereka inginkan.

Remaja, seperti kebanyakan dari kita, mempelajari pengalaman hidup dengan cara yang berat. Membutuhkan waktu untuk bisa membedakan teman yang baik dengan yang buruk. Namun tetaplah berikan mereka ruang untuk melakukan kesalahan. Berikan dukungan dan pengertian Anda. Bisa dipastikan anak remaja Anda akan berpaling kepada Anda ketika merasa rapuh, dan membawa pengaruh dari Anda sebagai ukuran panutan yang baik kedalam semua hubungan mereka. (Melodia)*

Sumber: http://health.liputan6.com/

Artikel Terkait

Penutupan PON Libatkan Seluruh Elemen Masyarakat Sejumlah penari latihan untuk persiapan upacara penutupan PON XIX di Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Bandung, Jabar, Selasa (27/9). Upacara penutupan PON XIX akan berlangusng pada 29 September 2016 yang rencananya akan dih...
Harapan Menko Puan untuk Para Perempuan Indonesia Liputan6.com, Jakarta Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Puan Maharani berharap perempuan lebih berperan aktif dalam pembangunan Indonesia. Terutama sosok untuk merawat kebhinekaan Indon...
Mien Uno: Perempuan Indonesia is Backbone of The Nation "Perempuan harus berdaya jangan ada self empowerment atau hambatan sosial dan budaya sehingga akan jadi roll mode dunia (teladan, sabar, percaya diri, daya juang, pengorbanan)". Demikian disampaikan oleh Ibu Mien Uno, salah s...
Akhiri Kekerasan Ekonomi pada Perempuan untuk Tingkatkan PDB JAKARTA, (PR).- Kaum perempuan yang tidak bekerja rentan mengalami kekerasan ekonomi. Padahal, apabila angka kekerasan terhadap perempuan menurun, produk domestik bruto Indonesia akan naik. Hal itu mengemuka dari hasil Sur...
Coba-coba Pakai Tembakau Gorilla, Risikonya Gangguan Jiwa Penggunaan tembakau super cap gorilla tetap tak aman meski hanya untuk coba-coba. Sebabnya, tembakau ini bisa memicu timbulnya gangguan jiwa. dr Andri, SpKJ, FAPM, psikiater dari Klinik Psikosomatik RS Omni Alam Sutera men...

Leave a Reply

Your email address will not be published.