Infografis: Fakta Seputar Tembakau Gorila

Sumber: Sudrajat – detikNews

Artikel Terkait

PUSPA 2017, Bangun Sinergi Masyarakat Untuk Kesejahteraan Perempuan dan Anak Foto: Kementerian PPPA PUSPA merupakan wadah berkumpulnya berbagai Lembaga Masyarakat yang mencakup berbagai bidang, yaitu lembaga profesi dan dunia usaha, lembaga media, organisasi masyarakat, organisasi keagamaan, akad...
Perkawinan Anak: Sebuah Ikatan Sakral Pemadam Api Harapan “Pernikahan Dini Bukan cintanya yang terlarang Hanya waktu saja belum tepat Merasakan semua...”             Penggalan lirik lagu “Pernikah...
Haornas 2017: Jabar Dipenuhi Prestasi Dibidang Olah Raga BANDUNG-Pemerintah pada Puncak Peringatan Hari Olahraga Nasional (Haornas) 9 September 2017 di Magelang memberikan penghargaan kepada Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan sebagai pembina olahraga berprestasi tahun 2017. &quo...
Apa Itu FCTC Salah satu tuntutan anak Indonesia kepada pemerintah di Hari Anak Nasional adalah segera tanda tangani FCTC. FTCT (Framework Convention on Tobacco Control) atau Konvensi Kerangka Kerja untuk Pengendalian Tembakau merupakan pe...
Atlet Jabar Siap Wujudkan Jabar Kahiji Komandan Kontingen Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX 2016 Jawa Barat, Mayjen TNI Hadi Prasojo menyatakan, kontingen Jawa Barat sudah siap seluruhnya untuk berjuang yang terbaik di ajang PON XIX 2016 Jawa Barat. “Atletnya s...

One Comment

  • muherman harun

    TEMBAKAU GORILLA
    Menteri Kesehatan ibu menyatakan tembakau Gorilla adiktif. Ibu menteri juga tahu, bahwa semua rokok itu adiktif.
    Ibu menteri juga tahu, bahwa rokok itu adiktif karena mengandung nikotin. Nikotin adiktif sama seperti ganja, morfin dan kokain.
    Industri rokok bisa menambah kadar nikotinnya (agar rasa lebih ‘nikmat’, lebih mengikat dan memikat). Tapi industri tak bakalan bikin rokok bebas nikotin. Mengapa? Rokok bebas nikotin tak akan ada rasa nikmatnya. Tidak akan ada pembelinya. Siapa mau hisap rokok yang bau, kotor, berbahaya lagi dan tanpa merasakan nikmatnya nikotin. Sekalipun kadar nikoin rendah skali “How low can you go?” atau rokok ‘MILD”, tetap ada nikotin yang terrasa nikmat dan mengakibatkan kecanduan.
    Karena kecanduan, orang akan merokok terus, terekspos tiga macam bahan bahaya dalam asap rokok. Bahan pertama terdiri atas tar, yang memberi rasa gurih tapi juga penyebab kanker paru, mulut, kerongkongan dll organ tubuh. Nahan kedua menganding karbonmonoksid yang mengakibatkan darah kekurangan oksigen, penyebab stroke dan serangan jantung dan akhirnya bahan ketiga nikotin yang memengaruhi sirkulasi darah di otak, jantung dan ekstremitas. Di samping itu asap rokok bisa mencetuskan terjadinya asma yang lama-kelamaan, bisa menyebabkan emfisema, gelembung-gelembung paru yang kecil (alveolus) menyatu menjadi gelembung yang besar dan akhirnya paru menjadi melar atau molor, namanya emfisema paru.
    Perokok yang ‘baik’ dan ‘bertanggungjawab’ menjauhkan diri dari rumah, agar keluarganya terhindar dari asap rokok. Tetapi bagaimana nasib anak dan istrinya kalau perokok sendiri jatuh sakit serius, apalagi fatal? Peringatan: “Merokok membunuhmu!“ bukan main-main. Istri jadi janda dan anak-anaknya menjadi yatim.
    Dokter hanya bisa memberi penanganan simptomatis. Ia mengobati gejala-gejala, tapi tak mampu menyembuhkan kankernya. Sebab operasi paru, khemo- dan radio terapi sering menyebabkan penderitaan bertambah, malah lebih daripada penyakitnya sendiri. Akhirnya ia dirawat di rumah sakit, diisolasi ke ruang ICU, lehernya dibolongi untuk ‘memudahkan pengeluaran dahak’. Tak lama kemudian, ia meninggal dalam keadaan menderita mungkin hanya ada perawat atau dokter yang ia tak kenal.
    Para pasien kanker yang sudah berpenyakit amat berat janganlah dipaksa untuk perawatan di rumah sakit. Biarlah mereka memilh untuk meninggal di rumah dengan tenang dan damai, dikelilingi keluarga tercinta dan sahabat terdekat.

Leave a Reply

Your email address will not be published.