Infografis: Fakta Seputar Tembakau Gorila

Sumber: Sudrajat – detikNews

Artikel Terkait

Aher: PON XIX, Terbesar Sepanjang Sejarah Ketua Umum PB PON XIX Ahmad Heryawan yang juga Gubernur Jabar mengatakan, PON XIX Jawa Barat tahun 2016 banyak mengukir catatan besar. Hal itu diungkapkan Ahmad Heryawan atau Aher dalam laporannya di hadapan Presiden RI, pada...
Coba-coba Pakai Tembakau Gorilla, Risikonya Gangguan Jiwa Penggunaan tembakau super cap gorilla tetap tak aman meski hanya untuk coba-coba. Sebabnya, tembakau ini bisa memicu timbulnya gangguan jiwa. dr Andri, SpKJ, FAPM, psikiater dari Klinik Psikosomatik RS Omni Alam Sutera men...
Kelompok Perempuan Dorong 3 Maret Sebagai Hari Kebaya Nasional Busana tradisional perlu diangkat agar bisa digunakan sehari-hari. Komunitas Perempuan Berkebaya mendorong tanggal 3 Maret sebagai Hari Kebaya Nasional. Tujuannya agar seluruh masyarakat ikut melestarikan kebaya. “Kami pen...
Pelatihan TOT GN AKSA Bagi Kab/Kota se Jawa Barat Jatinagor,Bidang PPA Melalui Seksi Pencegahan Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak mengadakan pelatihan TOT Gerakan Nasional Anti Kejahatan Kekerasan Seksual terhadap Anak (GN AKSA) bagi Kabupaten Kota se Jawa Barat,Acara di...
Kejahatan Serius Kemanusian Perdagangan Orang Tindak Pidana Perdagangan Orang adalah kejahatan serius terhadap kemanusiaan dengan memanfaatkan sindikat. Tindak pidana ini dianggap serius karena adanya indikasi eksploitas terhadap manusia. "Eksploitasi terjadi dari sisi e...

One Comment

  • muherman harun

    TEMBAKAU GORILLA
    Menteri Kesehatan ibu menyatakan tembakau Gorilla adiktif. Ibu menteri juga tahu, bahwa semua rokok itu adiktif.
    Ibu menteri juga tahu, bahwa rokok itu adiktif karena mengandung nikotin. Nikotin adiktif sama seperti ganja, morfin dan kokain.
    Industri rokok bisa menambah kadar nikotinnya (agar rasa lebih ‘nikmat’, lebih mengikat dan memikat). Tapi industri tak bakalan bikin rokok bebas nikotin. Mengapa? Rokok bebas nikotin tak akan ada rasa nikmatnya. Tidak akan ada pembelinya. Siapa mau hisap rokok yang bau, kotor, berbahaya lagi dan tanpa merasakan nikmatnya nikotin. Sekalipun kadar nikoin rendah skali “How low can you go?” atau rokok ‘MILD”, tetap ada nikotin yang terrasa nikmat dan mengakibatkan kecanduan.
    Karena kecanduan, orang akan merokok terus, terekspos tiga macam bahan bahaya dalam asap rokok. Bahan pertama terdiri atas tar, yang memberi rasa gurih tapi juga penyebab kanker paru, mulut, kerongkongan dll organ tubuh. Nahan kedua menganding karbonmonoksid yang mengakibatkan darah kekurangan oksigen, penyebab stroke dan serangan jantung dan akhirnya bahan ketiga nikotin yang memengaruhi sirkulasi darah di otak, jantung dan ekstremitas. Di samping itu asap rokok bisa mencetuskan terjadinya asma yang lama-kelamaan, bisa menyebabkan emfisema, gelembung-gelembung paru yang kecil (alveolus) menyatu menjadi gelembung yang besar dan akhirnya paru menjadi melar atau molor, namanya emfisema paru.
    Perokok yang ‘baik’ dan ‘bertanggungjawab’ menjauhkan diri dari rumah, agar keluarganya terhindar dari asap rokok. Tetapi bagaimana nasib anak dan istrinya kalau perokok sendiri jatuh sakit serius, apalagi fatal? Peringatan: “Merokok membunuhmu!“ bukan main-main. Istri jadi janda dan anak-anaknya menjadi yatim.
    Dokter hanya bisa memberi penanganan simptomatis. Ia mengobati gejala-gejala, tapi tak mampu menyembuhkan kankernya. Sebab operasi paru, khemo- dan radio terapi sering menyebabkan penderitaan bertambah, malah lebih daripada penyakitnya sendiri. Akhirnya ia dirawat di rumah sakit, diisolasi ke ruang ICU, lehernya dibolongi untuk ‘memudahkan pengeluaran dahak’. Tak lama kemudian, ia meninggal dalam keadaan menderita mungkin hanya ada perawat atau dokter yang ia tak kenal.
    Para pasien kanker yang sudah berpenyakit amat berat janganlah dipaksa untuk perawatan di rumah sakit. Biarlah mereka memilh untuk meninggal di rumah dengan tenang dan damai, dikelilingi keluarga tercinta dan sahabat terdekat.

Leave a Reply

Your email address will not be published.