Play keeps us fit physically and mentally.
Bermain menjaga kita bugar, baik fisik maupun mental
(Stuart Brown, MD, Contemporary American psychiatrist)

Play is our brain’s favorite way of learning.
Bermain adalah cara pembelajaran otak kita yang favorit
(Diane Ackerman, Contemporary American author)

Sebentar lagi libur Idul Fitri 1438 H. Anda sudah mempersiapkan liburan bareng keluarga, anak-anak serta cucu-cucu sekalian (bagi yang sudah punya, :D)? Pada saat-saat itu, tempat-tempat rekreasi dan tempat-tempat pembelanjaan seperti mall, penuh sesak dengan para pengunjung untuk berlibur bersama keluarga, termasuk anak-anaknya.

Dewasa ini, banyak tempat pembelanjaan dilengkapi dengan tempat bermain untuk anak-anak.. Ada dua fungsi ganda yang dapat diambil manfaatnya ketika keluarga pergi ke mall semacam ini. Pertama, si ibu dapat berbelanja untuk keperluan keluarga. Kedua, ada keluarga yang dapat diajak untuk ikut menjaga anak-anak bermain sepuas-puasnya di tempat bermain untuk anak-anak. Tidak seperti orangtua tempo dulu yang melarang anak-anaknya untuk bermain, dewasa ini orangtua sudah menyadari perlunya anak-anak untuk diberi kesempatan untuk bermain.

Sepuluh Hak Anak Menurut PBB

Untuk kita ketahui, berdasarkan Konvensi Hak Anak-Anak PBB, anak-anak kita mempunyai 10 (sepuluh) hak yang harus kita berikan kepada anak-anak kita, yakni hak untuk 1) bermain, 2) mendapatkan pendidikan, 3) mendapatkan perlindungan, 4) mendapatkan nama (identitas), 5) mendapatkan status kebangsaan, 6) mendapatkan makanan, 7) mendapatkan akses kesehatan, 8) rekreasi, 9) mendapatkan kesamaan, dan 10) mendapatkan peran dalam pembangunan. Dari kesepuluh hak untuk anak tersebut, hak yang pertama dan kedelapan adalah hak anak untuk bermain dan berekreasi.

Sungguh, sangat diharapkan agar keluarga dapat berupaya sedemikian rupa untuk memenuhi hak-hak untuk anak tersebut secara wajar. Itulah sebabnya dalam setiap liburan sekolah ini banyak keluarga yang membawa anak-anaknya untuk memperoleh hak untuk bermain dan berekreasi secara wajar. Dengan bermain sesungguhnya anak-anak juga belajar berbagai macam pengetahuan, sikap, dan keterampilan, sebagaimana telah diamanatkan oleh Unesco dengan empat pilar belajar, yakni 1) belajar untuk mengetahui (learning to know), 2) belajar untuk melakukan (learning to do), 3) belajar untuk menjadi dirinya sendiri (learning to be), dan 4) belajar untuk hidup bersama (learning to live tigether).

Manfaat Positif Bermain dan Berekreasi

Pertama, pada saat anak-anak sedang bermain, anak-anak juga dapat belajar, bukan saja dari aspek pengetahuan, tetapi juga penanaman sikap mental dan keterampilan. Di tempat bermain anak-anak itu juga dilengkapi dengan fasilitas bermain yang lebih formal, seperti anak-anak dapat belajar mewarnai gambar, belajar kerampilan membuat barang seni dari tanah liat. Mungkin saja, di tempat bermain seperti ini, fasilitas untuk belajar vokal dan menyanyi dapat saja disediakan, meskipun orangtua terpaksa harus mengeluarkan koceknya lebih besar lagi. Tetapi untuk pendidikan anak, semua itu tidaklah mengapa.

Kedua, dalam acara bermain tersebut, anak-anak sebenarnya juga dapat belajar untuk meningkatkan pelbagai tipe kecerdasannya, mulai dari olah pikir, hati, sampai dengan olah raga. Ketika sedang menunggu si kecil, cucu penulis, yang sedang sibuk mencari sepede mini, si kecil ternyata telah berkomunikasi dengan orangtua penunggu anaknya yang sedang bersepeda mini. Saya amati, cucu saya yang masih berusia empat tahun itu ternyata dapat belajar berkomunikasi dengan membujuk orangtua anak-anak yang sedang menunggu anaknya. Cucuku itu berkata “gantian yaaa”. Setelah selesai satu kali putaran, akhirnya orangtua itu pun memberikan kepada cucu saya yang menunggu dengan sabar. Kecerdasan interpersonal ini sangat bermanfaat untuk membentuk citra diri anak dalam belajar hidup bersama. Dengan demikian di dalam bermain ada pelajaran berharga untuk dapat hidup bersama (learning to live together).

Ketiga, beberapa jenis permainan yang ada memang dirancang secara khusus untuk meningkatkan percaya diri dan keberanian anak-anak. Permainan flying fox, sebagai contoh, memang dirancang agar anak memiliki ketertarikan untuk melakukan kegiatan yang menantang. Jika ia dapat melakukan kegiatan yang menantang seperti ini, anak-anak akan memiliki rasa percaya diri dan dengan demikian akan meningkat pula keberaniannya untuk menghadapi tantangan. Cucu saya pun ternyata tertarik untuk ikut bermain flying fox itu. Dengan rasa bangga dan bersemangat dia bermain bersama-sama dengan teman-teman yang sebenarnya tidak atau belum saling mengenal itu.

Keempat, beberapa jenis permainan yang lain dirancang hanya untuk dapat merasa “fun” atau bersenang-senang. Namun selain rasa senang, permainan itu pun masih memiliki manfaat untuk dapat belajar keterampilan, misalnya menangkap ikan kecil-kecil ditempatkan dalam kolam. Dengan alat penangkap ikan berupa jaring kecil, anak-anak sibuk menangkap ikan-ikan kecil itu dan kemudian di masukkan ke dalam plastik untuk dapat dibawa pulang dengan memberi ganti sejumlah rupiah yang tidak terlalu besar. Dengan kegiatan ini, anak-anak mulai dapat mengenal alam.

Kelima, ada beberapa jenis permainan yang secara khusus untuk meningkatkan keterampilan anak, seperti membuat kerajinan dari tanah liat. Meski tidak terlalu menantang, ketertarikan anak dalam kegiatan ini pun cukup baik untuk memberikan pengalaman kepada anak-anak untuk mulai mencintai dunia seni, seperti kerajinan dari tanah, yang setelah menjadi dewasa kelak, kecintaan anak-anak dapat saja berkembang menjadi kecintaan terhadap dunia bisnis dalam bidang seni kerajinan. Sayang tempat bermain anak-anak ini belum menyiapkan fasilitas untuk kerajinan membatik. Alangkah asiknya jika tempat ini dapat dilengkapi dengan fasilitas ini. Anak-anak akan bermain corat-coret untuk melukis batik.

Refleksi

Anak-anak mempunyai hak untuk dapat bermain, selain hak-hak yang lain. Dengan bermain, anak-anak memperoleh banyak manfaat yang mereka perlukan untuk menghadapi hidup di masa depan. Dengan bermain, sekaligus mereka dapat belajar. Bahkan dalam usia balita, anak-anak perlu diberikan kesempatan untuk bermain, karena dengan bermain anak-anak kita dapat meningkatkan kecerdasannya, mulai dari kecerdasan inter dan intrapersonal, dalam bahasa, dan bahkan juga kecerdasan fisikal yang sering disebut sebagai bodily kinestetik. Anak-anak usia balita dikenal debagai usia keemasan (the golden age), karena dalam usia itu terjadi perkembangan kecerdasan secara optimal. Marilah kita berusaha untuk memberikan hak bermain kepada anak-anak kita. Mudah-mudahan.

Artikel Terkait

Netty Dinobatkan Jadi Kartini Masa Kini Sepak terjang Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Jawa Barat, Netty Heryawan dalam bidang perlindungan perempuan dan anak, serta keaktifannya dalam gerakan pemasyarakatan minat baca di Jawa Barat, memboyong Netty dianugerahi pen...
7 Pilar Mendidik Anak Menurut Psikolog Elly Risman Menjadi orang tua adalah tugas yang paling sulit, apalagi jika kita tidak memiliki bekal yang cukup untuk mendidik anak kita. Melalui acara “Wardah Berbagi Inspirasi” di Muslim Fashion Festival 2016, psikolog anak Elly Risman...
Di Hari Anak Nasional Ada 10 Permintaan Anak ke Presiden Jokowi Presiden Jokowi dan Ibu Negara Iriana menghibur dan membagi buku bacaan kepada anak korban gempa di tenda pengungsian Ringblang Meurdu, Pidie Jaya, Aceh, 15 Desember 2016. Sebanyak 83.838 jiwa pengungsi diupayakan bisa secepa...
Akhiri Kekerasan Ekonomi pada Perempuan untuk Tingkatkan PDB JAKARTA, (PR).- Kaum perempuan yang tidak bekerja rentan mengalami kekerasan ekonomi. Padahal, apabila angka kekerasan terhadap perempuan menurun, produk domestik bruto Indonesia akan naik. Hal itu mengemuka dari hasil Sur...
Keren, Raih WTP 6 Kali, Pemprov Jabar Terima Penghargaan Dari Presiden JAKARTA-Atas raihan Opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari BPK selama enam kali berturut-turut dari tahun 2011-2016, Pemerintah Provinsi Jawa Barat mendapatkan penghargaan dari Pemerintah Pusat sebagai Pemda yang...

Leave a Reply

Your email address will not be published.