Eksistensi gerakan lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT) sudah terdengar sejak 90-an. Mereka berlindung di balik ratusan organisasi masyarakat yang mendukung kecenderungan untuk berhubungan seks sesama jenis.

Sampai akhir 2013 terdapat dua jaringan nasional organisasi LGBT yang menaungi 119 organisasi di 28 provinsi. Pertama, yakni Jaringan Gay, Waria, dan Laki-Laki yang Berhubungan Seks dengan Laki laki Lain Indonesia (GWLINA) didirikan pada Februari 2007. Jaringan ini didukung organisasi internasional.

Jaringan kedua, yaitu Forum LGBTIQ Indonesia, didirikan pada 2008. Jaringan ini bertujuan memajukan program hak-hak seksual yang lebih luas dan memperluas jaringan agar mencakup organisasi-organisasi lesbian, wanita biseksual, dan pria transgender.

Sebenarnya, modus apa saja yang digunakan para aktivis LGBT untuk menebar pahamnya ke Indonesia. Berikut empat diantaranya yang direkam pusat data Republika.co.id.

Lewat Buku

Sebuah buku bergaya komik yang diterbitkan PT Elex media Komputindo menuai kontroversi. Buku berjudul ‘Why Puberty: Pubertas’ ini mendapat sorotan publik karena memuat legalitas hubungan sesama jenis.

Dalam sinopsis yang ada pada laman Elexmedia, buku seharga Rp 75 ribu itu merupakan karya penulis asal Korea Selatan, yakni Jeon Ji-eun. Dengan 200 halaman, buku itu terkesan memberikan pendidikan seksual kepada remaja dengan bahasa sederhana.

Pengetahuan seks, seperti mimpi basah, masturbasi, dan menstruasi dibahas di buku ini. Hanya, pada bab terakhir, buku ini juga menjelaskan tentang bagaimana mencintai pasangan sejenis. Setiap orang punya hak untuk mencintai dan dicintai dan bila mereka mencintai sesama jenis, itu adalah pilihan.

Jika boleh memilih, tentu saja mereka ingin memilih mencintai lawan jenis, seperti tertera dalam buku tersebut. Buku itu kemudian memang ditarik penerbit. Aluisius Arisubagijo, general manager PT Elexmedia Komputindo mengakui adanya keteledoran meski mengklaim penerbitan buku tersebut sudah prosedural.

Meski ditarik, penerbitan buku itu menyingkap tabir tentang propaganda gerakan LGBT di Indonesia. Lesbi, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) sudah bukan menjadi gerakan bawah tanah. Legalisasi penyimpangan orientasi seksual tersebut di negara-negara Eropa dan Amerika Serikat membuat mereka semakin berani bersuara.

Aktif di Twitter

Pergerakan kaum LGBT pun sudah terlihat dampaknya lewat media sosial seperti Twitter. Bahkan anak-anak SMP-SMA banyak yang ditengarai terjerat. Lewat akun Twitter ditemukan komunitas gay yang terang-terangan berkata-kata mesum dan jorok untuk menarik perhatian kaum sesama lain.

Prasetyo, salah satu gay di Twitter tersebut, mengucapkan kata-kata yang jorok yang ditujukan kepada akun gay lain yang mengklaim SMP Bekasi, SMP Tangerang, dan SMA Jakarta.

Seperti dilihat Republika.co.id, akun yang mengatasnamakan gay SD SMP memiliki pengikut 980 akun. Sementara SMP Bekasi ada 17 ribu pengikut.

Kampanye Lewat YouTube

Di Youtube, terdapat satu saluran bernama Yimoet channel untuk mengampanyekan kaum LGBT. Channel yang dipublikasi oleh Yayasan Intermedia tersebut menggambarkan anak-anak muda yang bangga menjadi LGBT sejati. Beberapa scene pada video itu juga menggambarkan adanya pengakuan dari orang tua mengenai disorientasi seksual para pemuda tersebut.

Di channel itu, mereka legawa dengan kecenderungan anak-anaknya yang memiliki orientasi seksual berbeda.

“Kita semua sama. Kita semua bersahabat. So be proud of you guys,” ujar salah seorang remaja tanggung dalam video tersebut yang mengaku gay.

Tak hanya lewat internet, propaganda LGBT juga tampak dari program hiburan stasiun televisi. Banyak program bergenre komedi dan musik menyertakan penampakan lelaki bertingkah feminim yang akrab disebut melambai. Propaganda LGBT ini menyuburkan jumlah kecenderungan perilaku seksual menyimpang.

Lembaga Konseling Kampus

Tak ketinggalan, LGBT juga merambah kampus. Sebuah poster muncul di dunia maya menghebohkan sejumlah pengguna media sosial, Kamis (21/1). Dalam poster tersebut tertulis penawaran bagi mahasiswa dari Universitas Indonesia (UI) yang punya kecenderungan  lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT).

Dalam poster itu Support Group and Resource Center On Sexuality Studies” (SGRC) UI memasang foto dan orang-orang yang sudah secara terbuka mengakui dirinya LGBT. Mereka yang mengalami masalah ini, justru diminta untuk mengirimkan dan bercerita tentang masalah mereka kepada orang, yang sudah mengakui kalau dirinya LGBT.

Sekalipun SGRC-UI menyebut mereka bukanlah kelompok LGBT, tetapi mereka adalah kelompok kajian kampus. SGRC-UI mengaku mengampanyekan pemahaman yang lebih menyeluruh mengenai permasalahan gender dan seksualitas melalui seminar, diskusi, dan berbagai kegiatan lain. Di sana, mereka menyarankan untuk mengenal SGRC UI yang dimuat dalam situs www.Melela.org.

Sumber: Republika.co.id

Artikel Terkait

Rehabilitasi Korban Kejahatan Seksual Bisa Seumur Hidup REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Rehabilitasi korban kejahatan seksual perlu diberlakukan seumur hidup. Hal itu disampaikan oleh Ketua Bidang Pemenuhan Hak Anak Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI), Reza Indragiri Amriel, da...
Taman Kota Dibangun untuk Memelihara Keutuhan Keluarga Tingginya angka perceraian lebih disebabkan kurangnya waktu yang berkualitas antara suami istri dan keluarga serta kurang terbangunnya keluarga yang utuh. Oleh karena itu Pemerintah Kota Bogor  berupaya semaksimal mungkin unt...
34 Bendera Kontingen PON XIX dan Peparnas XV Sudah Dikibarkan Sebanyak 34 bendera kontingen PON XIX dan Peparnas XV Tahun 2016, Rabu (14/9) telah dikibarkan di Halaman Stadion Gelora Bandung Lautan API (GBLA) dengan inspektur upacara Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan. Pengibaran ben...
Lagu Bernuansa Vulgar Kian Marak, Keluarga Harus Makin Awas KAB.CIREBON-Semakin maraknya lagu-lagu bernuansa vulgar dan berbau pornografi di kalangan anak muda, Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Provinsi Jawa Barat Netty Heryawan menangga...
Sangat Penting! Ini Peran Ayah dalam Tumbuh Kembang Anak "Foto: Getty Images " Sebelumnya, pemikiran bahwa ayah hanya bertugas sebagai pencari nafkah dan anak-anak adalah urusan ibu adalah hal usang. Pada zaman sekarang, baik ayah maupun ibu memiliki peran yang setara dan seimba...

Leave a Reply

Your email address will not be published.