Swara Wanita. Bila kita melihat pembangunan itu, ujungnya bukan kesejahteraan perempuan dan anak. Ini merupakan bagian kita, untuk mempersiapkan sumber daya manusia (SDM). Karena SDM itu salah satunya tergantung urusan gizi dari anak-anak, seperti dari susu ibu dan sebagainya. Karena itu ibu dan anak buat saya menjadi reward, untuk peningkatan SDM ke depannya. SDM itu prosentasenya bisa kita ketahui dari IPM (Indeks Pembangunan Manusia), di mana indikatornya ada tiga yaitu, kesehatan, pendidikan dan ekonomi.

Terkait kesehatan, bagaimana mempersiapkannya dari mulai dalam kandungan harus sehat, asupan harus bagus. Selain itu seorang ibu atau para calon ibu harus mempunyai pengetahuan, dan bisa dilakukan melalui kursus bagi calon pengantin. Hal ini juga menjadi konsen kita. Karena dari segi psikis bagaimana mempersiapkan secara emosional, dalam memasuki perkawinan itu. Mereka harus tahu, akan terjadi perubahan kehidupan, dan secara ekonomi harus disiapkan. Tidak mungkin perkawinan itu hanya berbekal cinta, dan sejak awal mereka harus merencanakan dan disebut “Keluarga Berencana“.

Bila sudah direncanakan, maka setidaknya 60 % – 70%  kita sudah tahu menyelesaikannya seperti apa. Yaitu tidak boleh terlalu banyak, tidak boleh terlalu dekat, tidak boleh terlalu tua, tidak boleh terlalu muda. Setelah itu anak menjadi besar, harus diperhatikan asupan gizi serta pendidikannya.

Demikian hal ini dikatakan oleh Kepala DP3AKB (Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana) Prov. Jawa Barat, Dr. Ir. Dewi Sartika, M.Si, saat diwawancarai Swara Wanita di kantornya baru-baru ini.

Lebih lanjut Dewi Sartika mengatakan. Di penghujung tahun 2016, kembali Pemerintah Provinsi Jawa Barat meraih penghargaan Anugerah Parahita Ekapraya (APE) dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, atas komitmennya dalam melaksanakan pembangunan kesetaraan gender, pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak.

“Alhamdulillah sekarang perbedaan gender perempuan dan laki-laki untuk pendidikan, sudah mendekati, artinya ini sudah cukup baik, namun memang kita lihat sektor ekonomi kaum perempuan belum mandiri. Sebetulnya di Jawa Barat dengan visinya ‘Jawa Barat Maju dan Sejahtera untuk Semua’, Itu menandakan sudah tidak ada diskriminasi karena semua sama. Tetapi memang akses ekonomi, masih ada perbedaan, masih tumpang tindih. Salah satunya akses perempuan terhadap permodalan masih susah. ini harus didorong”, tuturnya.

Bagaimanapun juga, perempuan itu mempunyai sifat yang berbeda dengan laki-laki. Mungkin perempuan lebih banyak pertimbangan, dan mampu menunggu dengan sabar. Karena itu kenapa di perusahaan-perusahaan harus ada ruang laktasi, sebab itu bagian dari kaum perempuan yang harus mendapatkan hak seperti itu. Apalagi kalau kerja shift, harus diantar jemput demi keamanan. Keamanan dan kenyamanan bagi kaum perempuan tidak semata-mata tugas pemerintah, tetapi implementasinya berharap perusahaan-perusahaan yang memperkerjakan kaum perempuan di Jabar juga turut menjaganya.

Dari sisi ekonomi kita berharap, kalau di kementerian menggalakkan pemberdayaan perempuan melalui industri rumah tangga (home industry). Artinya kaum perempuan itu tidak harus meninggalkan rumah, tetapi dia bisa mengkaryakan potensi yang ada. Walaupun secara professional, industri rumahan tidak dihitung jumlah tenaga kerja. Misalnya seorang laki-laki dia sudah berkeluarga, dengan tangungan istri dan anaknya. Tapi kalau di home industry tidak terpikirkan sampai ke situ, seperti itulah yang mengakibatkan pendapatan perempuan itu relatif masih jauh dari laki-laki, ujar Dewi Sartika.

Kinerja pembangunan pemberdayaan perempuan di Jawa Barat, berdasarkan IPM menunjukan peningkatan dan perbaikan kualitas manusia. Tahun 2014 IPM 68,80 meningkat Tahun 2015 menjadi 69.50. Bahkan IPG Jawa Barat merupakan 5 Provinsi yang mengalami peningkatan terbaik di Indonesia. Yaitu Kalbar, Gorontalo, Jawa Barat, Sulawesi Tenggara dan Sumatra Barat. Penimgkatan IPG Jawa Barat sebesar 0,78 point menduduki rangking ke-3. Sedangkan pertumbuhan IPM untuk laki-laki d Jawa Barat dan Gorontalo, adalah 2 provinsi  yang paling tinggi pertumbuhannya sebesar 0,42 point. Untuk pertumbuhan IPM perempuan Jawa Barat menduduki posisi ketiga dari Gorontalo dan Kalbar, masing2 sebesar  1.33, 1.31 dan 1.29. Angka tsb menunjukan, bahwa pembangunan di Jawa Barat responsif gender, sesuai Visi Jawa barat Maju Dan sejahtera Untuk semua. Hal ini menunjukkan, bahwa pembangunan di Jawa Barat dilakukan tanpa diskriminasi.

Kesenjangan di bidang pendidikan, antara perempuan dan laki-laki semakin mengecil. Hal ini harus terus diupayakan, agar peluang perempuan dalam mengakses pasar tenaga kerja, dan tenaga kerja secara umum semakin terbuka lebar. Berdasarkan Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas 2015), bahwa rasio kesempatan kerja terhadap penduduk usia kerja, maka perempuan masih tertinggal dari laki-laki, yaitu 45.76 dan laki-laki 77.69. Padahal kesempatan kerja untuk laki-laki dan perempuan adalah 99.93 dan 99.63, namun terdapat perbaikan upah bagi pekerja perempuan khususnya di bidang non pertnaian. Untuk kewirausahaan, akses perempuan untuk permodalan dan pelatihan relatif sama, tapi masih tertinggal dibanding kaum laki-laki, dan hal ini menjadi perhatian pemerintah.

DP3AKB Prov. Jabar mengutamakan kepada pelayanan, dan SDM-nya kita tingkatkan sehingga lebih professional. Adapun berbagai program DP3AKB, diantaranya adalah A. Peningkatan Kualitas Hidup dan Perlindungan Perempuan Dan Anak, yaitu 1. Peningkatan Peran serta dan Kesetaraan Gender Dalam Pembangunan 2. Meningkatnya perlindungan terhadap perempuan dan Anak melalui penurunan angka kekerasan  pada perempuan dan anak. 3. Penguatan system informasi Gender Dan Anak

Program Ketahanan Keluarga Dan Kesejahteraan Keluarga. Yaitu meningkatnya ketahanan keluarga melalui pengendalian kerentanan keluarga dan pengendalian penduduk melalui penurunan angka kelahiran dan penurunan angka keluarga pra sejahtera. Peningkatan Kualitas Hidup Dan Perlindungan Anak Dan Keluarga, artinya bagaimana perempuan dari sisi pendidikan, bagaimana juga mereka mampu berkiprah di dalam bidang sosial, budaya, ekonomi.

Terkait dengan bidang politik, harus benar-benar dipersiapkan untuk memenuhi kuota keterwakilan perempuan 30%. Hal ini tentunya menjadi PR, belum lagi bidang pendidikan menginginkan perempuan-perempuan untuk menduduki top manajemen, CEO  atau jadi direktur. Sehingga memberdayakan perempuan ada 2 sisi, karena perempuan itu berpikir tentang kesehatan dan pendidikan anak dan jarang langsung memikirkan ekonomi dirinya sendiri. Itu artinya kalau kita memberdayakan ekonomi untuk perempuan, otomatis dia akan memperhatikan kesehatan dan pendidikan anaknya.

Diakhir wawancaranya dengan Swara Wanita, Dr. Ir. Dewi Sartika, M.Si sebagai kepala DP3AKB Prov. Jabar berharap bahwa sesama perempuan itu saling menguatkan dan saling membesarkan. Karena memang dari perempuan-perempuan yang kuat itu, Insya Allah akan lahir juga generasi yang kuat dan mandiri. Semoga hasil wawancara ini bisa memotivasi kaum perempuan, untuk terus maju”, pungkas Dewi Sartika.

Sumber: Koran SwaraWanita Edisi 70/Tahun-V (10 Januari – Februari 2017)

Artikel Terkait

Lala, Karateka Cilik Penyulut Kalderon PON XIX Kejutan diberikan PB PON XIX Jabar dengan menghadirkan atlet cilik yang bertugas paling akhir membawa api PON. Atlet cilik bernama Lala Diah Pitaloka itu merupakan atlet karateka . Lala Diah Pitaloka, anak berusia 11 tahun...
Opening Ceremony Peparnas Hadirkan Pertunjukan Berbeda Dengan PON Opening Ceremony (Upacara Pembukaan) Pekan Paralimpik Nasional (Peparnas) XV/2016 akan digelar pada 15 Oktober 2016 di Stadion Siliwangi, Kota Bandung. Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar selaku Wakil Ketua Umum PB PON XIX...
Rakor Percepatan Pelaksanaan Pengarustamaan Gender (PUG) di Jawa Barat Ibu Dr. Hj. Netty Heryawan  memberikan pencerahan kepada 50 peserta rakor  tentang pentingnya pemahaman yang sama tentang Pengarusutamaan Gender (PUG). Hal tersebut beliau sampaikan pada rakor terkait percepatan pelaksanaan P...
Rapat Koordinasi P2TP2A Se-Jawa Barat Netty Heryawan, sampaikan arahannya di acara Rapat Koordinasi Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) se-Jabar, bertempat di Hotel Narima Lembang, Senin, 28 Maret 2016.
34 Bendera Kontingen PON XIX dan Peparnas XV Sudah Dikibarkan Sebanyak 34 bendera kontingen PON XIX dan Peparnas XV Tahun 2016, Rabu (14/9) telah dikibarkan di Halaman Stadion Gelora Bandung Lautan API (GBLA) dengan inspektur upacara Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan. Pengibaran ben...

Leave a Reply

Your email address will not be published.