Training Of Trainer (TOT) Sekoper Cinta Angkatan Kedua Tahap I Tahun 2019

Training Of Trainer (TOT) Sekoper Cinta Angkatan Kedua Tahap I Tahun 2019

DP3AKB, PKHP

TOT Sekoper Cinta kali ini merupakan rangkaian lanjutan dari pelaksanaan pada tanggal 4 sampai 6 April 2019 yang telah melahirkan 270 Fasilitator penggerak pelaksana kegiatan belajar mengajar di 27 desa atau kelurahan P2WKSS Kabupaten Kota seJawa Barat yang berlangsung dari bulan April hingga September 2019. Dari kegiatan tersebut telah lahir 270 juara yang berhasil menuntaskan pembelajaran modul dasar dan modul tematik sekoper cinta dan telah mengikuti prosesi wisuda oleh Gubernur Jawa Barat.

TOT sekoper Cinta Angkatan Kedua ini dilaksanakan di Sekretariat Sekoper Cinta Jalan Turangga Nomor 25 Bandung. Rabu(11/12/19) di ikuti oleh 430 orang peserta perwakilan seluruh Kecamatan dan dari 26 Kabupaten Kota di luar kecamatan yang telah mengikuti sebelumnya.

Dibuka oleh Kepala DP3AKB Provinsi Jawa Barat Ir. Poppy Sophia Bakur, M.EP, beliau mengucapkan banyak terima kasih kepada Bank BJB tbk, PT Paragon Technology and Innovation (Wardah) yang telah mendukung penuh penyelenggaraan TOT lanjutan ini melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) juga hotel IBIS Trans Studio yang telah mendukung penyediaan akomodasi peserta TOT Sekoper Cinta.

Seluruh peserta dibagi kedalam empat kelas pembelajaran dan mendapatkan seluruh materi pelatihan yaitu 6 modul dasar dan 4 tematik, modul dasar perkenalan pengenalan setelah bercinta citra diri perempuan membangun keluarga bahagia keterampilan dasar perempuan kesehatan keluarga lingkungan hidup dan penanggulangan bencana serta modul tematik anak dan keluarga keterampilan dan perempuan di ruang publik dan politik.

WhatsApp Image 2019-12-11 at 13.04.11

WhatsApp Image 2019-12-11 at 13.04.06

WhatsApp Image 2019-12-11 at 13.03.58

WhatsApp Image 2019-12-11 at 13.03.53

WhatsApp Image 2019-12-11 at 13.03.56

WhatsApp Image 2019-12-13 at 18.35.08 (2)

Rapat Teknis Bidang Ketahanan Keluarga

Rapat Teknis Bidang Ketahanan Keluarga

DP3AKB, PKK

DP3AKB Prov. Jawa Barat melalui Bidang PKK melaksanakan Rapat Teknis Bidang Ketahanan Keluarga pada tanggal 4 Desember 2019 yang berlokasi di Harmoni Hotel Garut. Kegiatan dibuka oleh Kepada DP3AKB Prov. Jabar yang diwakili oleh Kepala Bidang PKK Ari Antari Ratna Dewi, S.IP., MM.

Materi dan narasumber dalam kegiatan ini terdiri dari:
1. Materi Ketahanan Keluarga Dalam Budaya Indonesia oleh Plt. Assisten Deputi Ketahanan dan Kesejahteraan Keluarga Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia
2. Materi Tantangan Pembangunan Ketahanan Keluarga oleh Prof. Dr. Ir. Euis Sunarti, M.Si Akademisi dari IPB Bogor
3. Materi Membangun Ketahanan Keluarga Yang Responsif Gender oleh Ketua II Puspaga Balarea Provinsi Jawa Barat.
4. Materi Sinergi dan Kolaborasi dalam Pembangunan Ketahanan Keluarga menuju Jabar Juara oleh Dra. Ani Rukmini M.Si selaku Fasilitator MOTEKAR.

Tujuan kegiatan ini adalah
1. Meningkatkan eksistensi perangkat daerah baik provinsi dan kab/kota terkait Bidang Ketahanan Keluarga, Perlindungan Perempuan dan Perlindungan Anak dalam membangun ketahanan keluarga sebagai upaya mewujudkan keluarga yang kuat dan berkualitas, dimana seluruh fungsi keluarga dapat dijalankan ;
2. Meningkatkan singkronisasi dan sinergitas kinerja provinsi dengan kab/kota terkait pemenuhan hak anak terutama mengenai pembelajaran keluarga;
3. Mendorong kab/kota untuk dapat meningkatkan peran Motekar sebagai mitra sehingga dapat memperkokoh program pemberdayaan keluarga di kab/kotanya.

WhatsApp Image 2019-12-04 at 14.29.04

WorkShop Sekolah Tanpa Gangguan Kendali Gawai (SETANGKAI)

WorkShop Sekolah Tanpa Gangguan Kendali Gawai (SETANGKAI)

DP3AKB, PPA

Workshop Setangkai dilaksanakan sebanyak 4 angkatan yaitu angkatan I dan II dilaksanakan di Hotel Mason Pine Kab. Bandung Barat , angkatan III di Apita Hotel, Kab. Cirebon yang dilaksanakan tanggal 20 sd 21 November 2019.
Angkatan IV direncanakan akan dilaksanakan di Palace Hotel Kabupaten Cianjur pada tanggal 25 – 26 November 2019.
Peserta terdiri dari perwakilan aktifis PATBM, MOTEKAR, Siswa SMA, Guru SMA, SMP, SD dan Guru BK.

SETANGKAI merupakan program Sekolah Tanpa Gangguan Kendali Gawai, sasaran penerima manfaat utamanya adalah kepada remaja usia sekolah menengah 12 hingga 18 tahun dan sasaran lanjutannya kepada anak usia Sekolah Dasar, Orangtua, dan Guru sebagai pengampu tanggung jawab utama dalam tumbuh kembang anak.

Program ini memiliki Dasar Hukum sebagai berikut:
1. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1979 tentang kesejahteraan anak;
2. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak;
3. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional;
4. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan;
5. Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak;
6. Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 2008 tentang Wajib Belajar;
7. Keputusan Presiden Nomor 36 Tahun 1990 tentang Pengesahan Convention on the Rights of the Child (Konvensi tentang Hak-Hak Anak);
8. Permen PPPA Nomor 11 Tahun 2011 Tentang Kebijakan Pengembangan Kabupaten/Kota Layak Anak;
9. Permen PPPA Nomor 8 Tahun 2014 Tentang Kebijakan Sekolah Ramah Anak;
10. Perda Provinsi Jawa Barat No. 5 Tahun 2006 Tentang Perlindungan Anak;
11. Peraturan Gubernur Jawa Barat No. 9 Tahun 2010 tentang Petunjuk Pelaksanaan Teknis Perda No. 5 Tahun 2006 tentang Perlindungan Anak.

Tujuan dari program ini adalah memberikan gambaran umum tentang kebijakan pengendalian dan pembatasan penggunaan gawai di lingkungan sekolah, meningkatkan pengetahuan dan kapasitas siswa, guru, orang tua serta pemangku kepentingan lainnya berkaitan dengan literasi digital, dan mendukung terwujudnya Kota/Kabupaten Layak Anak (KLA) dan Sekolah Ramah Anak (SRA), serta Perencanaan Penganggaran Responsif Hak Anak (PPRA).

Konsep program SETANGKAI juga untuk mendukung visi Terwujudnya Anak Juara Lahir Batin dengan Misi sebagai berikut:
1. Mengurangi risiko kesehatan akibat paparan gawai pada anak;
2. Mengurangi kerentanan anak terhadap risiko dunia maya (kejahatan digital, misinformasi, konten negatif);
3. Mengembangkan alternatif ruang dan aktivitas yang mendukung tumbuh kembang anak;
4. Mengembangkan alternatif ruang dan aktivitas yang mendukung tumbuh kembang anak;
5. Menumbuhkan kesadaran masyarakat tentang kewajiban pemenuhan hak anak;
6. Mendorong partisipasi aktif masyarakat dalampemenuhan hak anak.

Pengendalian penggunaan gawai di sekolah ini tidak melarang menggunakan gawai pada siswa sekolah melainkan bagaimana mengendalikan penggunaan gawai di sekolah dengan cara memfasilitasi ruang dan aktivitas alternatif, pendidikan literasi dasar dan digital bagi anak dan peningkatan kapasitas orang tua dan guru.

WhatsApp Image 2019-11-20 at 16.48.24 (2)

WhatsApp Image 2019-11-20 at 16.48.24

WhatsApp Image 2019-11-20 at 16.48.25 (1)

WhatsApp Image 2019-11-20 at 16.48.25 (2)

WhatsApp Image 2019-11-20 at 16.48.26 (1)

WhatsApp Image 2019-11-20 at 16.48.26 (2)

WhatsApp Image 2019-11-20 at 16.48.26

WhatsApp Image 2019-11-20 at 16.48.27 (2)

WhatsApp Image 2019-11-20 at 16.48.28

Pemdaprov Jabar Wisuda 2.700 Lulusan Sekoper Cinta

Pemdaprov Jabar Wisuda 2.700 Lulusan Sekoper Cinta

DP3AKB, PKHP

KOTA BANDUNG – Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil meminta 2.700 wisudawati Sekoper Cinta (Sekolah Perempuan Capai Impian dan Cita-cita) untuk menerapkan empat nilai, yakni Physical Quotient (PQ), Intelligence Quotient (IQ), Emotional Quotient (EQ), dan Spiritual Quotient (SQ), dalam keluarganya.

Menurut Emil – demikian Ridwan Kamil disapa, penerapan empat nilai tersebut bertujuan untuk mencetak generasi muda Jabar jadi Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul dan berdaya.

“Ibu-ibu, saya titip anak cucu kita harus memiliki empat nilai. Pertama, fisiknya kuat tidak boleh ada cerita stunting di Jabar, tidak boleh ada cerita gizi buruk di Jabar, tidak boleh ada cerita ibu dan anak meninggal dunia dalam persalinan di Jabar”, kata Emil saat menghadiri Wisuda Sekoper Cinta Tahun Pertama di Gymnasium UPI, Kota Bandung, Selasa (22/10/19).

“Kemudian, anak kita harus punya IQ tinggi karena kecerdasan akan menjadi kunci dalam berkompetisi. Ketiga, anak-anak harus berakhlak. Dan keempat, anak-anak kita harus menjadi orang beriman. Empat nilai itu menjadi syarat dalam 26 tahun ke depan –kalau Indonesia ingin menjadi salah satu negara hebat di dunia,” imbuhnya.

Emil mengatakan, wisudawati Sekoper Cinta adalah perempuan juara yang siap menjadi solusi bagi dirinya sendiri, keluarga, dan lingkungan. Hal itu juga yang tertera dalam ikrar Sekoper Cinta.

Selain itu, Emil berharap wisudawati Sekoper Cinta mampu merekrut tiga kader perempuan didesanya. Dengan begitu, akan ada 10.800 perempuan yang menjadi juara setiap tahunnya.

“Mereka pulang wisuda akan jadi aktivis akan mencari tiga orang per satu wisudawati. Nanti, makin lama makin banyak. Insyaallah semua perempuan di Jabar akan mengakses Sekoper Cinta,” katanya.

“Kita bikin wisuda supaya ada kebanggaan, selesai kursus dirayakan dengan cara yang menghormati mereka,” ucap Emil melanjutkan.

Pemerintah Daerah Provinsi (Pemdaprov) Jabar meluncurkan Sekoper Cinta untuk menekan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak, menggerus angka gizi buruk balita, mengurangi jumlah stunting, dan menurunkan angka kematian ibu dan anak dalam persalinan.

Ketua Umum Sekoper Cinta yang juga Ketua Tim Penggerak PKK Prov. Jabar Atalia Ridwan Kamil mengatakan, Sekoper Cinta menjadi wadah bagi perempuan Jabar untuk melakukan interaksi, komunikasi, bertukar pengetahuan, dan pengalaman.

Program tersebut, kata Atalia, menjadi ruang bagi perempuan untuk mengenali kebutuhan dan kepentingan dalam meningkatkan kualitas hidup. Sejak diluncurkan, Sekoper Cinta memiliki 2.700 lulusan yang berasal dari 100 desa di 27 kabupaten/kota di Jabar.

Menurut Atalia, DP3AKB Prov. Jabar yang menjadi Leading Sector Sekoper Cinta memiliki 19 Master of Trainer (MoT) serta 270 Trainer.

“Setelah ini akan ada program lanjutan yang lebih pada kesiapan perempuan tersebut lebih mandiri secara finansial. Jadi, mereka akan belajar langsung terkait keterampilan yang diinginkan”, kata Atalia.

Atalia mengatakan, Sekoper Cinta mendapat perhatian dari Kementrian PPPA. Sebab, Sekoper Cinta dianggap dapat diimplementasikan di tingkat nasional dan menjadi percontohan bagi daerah lain.

“Karena ini adalah satu-satunya program yang dilakukan untuk level provinsi, beberapa dasawarsa belakangan ini banyak sekali program sekolah perempuan, tapi biasanya dilakukan untuk level yang sangat terbatas”, ucapnya.

“Yang kami lakukan ini komperhensif, jadi perempuan tahu bagaimana mengembangkan potensi yang mereka miliki. Jadi, harapannya kepada perempuan-perempuan yang sudah lulus ini mereka bisa menjadi relawan yang dapat menyebarkan informasi yang telah didapat selama proses pembelajaran kepada masyarakat luas”, kata Atalia menutup.

Pada kesempatan yang sama, Atalia mendapat penghargaan sebagai Gender Champion Provinsi Jawa Barat Tahun 2019 kategori Pembaharuan Pemberdayaan Perempuan karena telah menjadi inisiator, pendorong, penggerak semangat literasi bagi para perempuan di Jawa Barat.

HUMAS JABAR
Kepala Biro Humas dan Keprotokolan Setda Provinsi Jabar
Hermansyah

WhatsApp Image 2019-10-22 at 17.02.09 (1)

WhatsApp Image 2019-10-22 at 17.02.08 (1)

WhatsApp Image 2019-10-22 at 17.02.09 (2)

WhatsApp Image 2019-10-22 at 17.02.08 (2)

WhatsApp Image 2019-10-22 at 17.02.08

WhatsApp Image 2019-10-22 at 17.02.10

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil dan Ketua Umum Sekoper Cinta Atalia Ridwan Kamil saat menghadiri Wisuda Sekoper Cinta Tahun Pertama di Gymnasium UPI, Kota Bandung, Selasa (22/10/19)
Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil dan Ketua Umum Sekoper Cinta Atalia Ridwan Kamil saat menghadiri Wisuda Sekoper Cinta Tahun Pertama di Gymnasium UPI, Kota Bandung, Selasa (22/10/19)

(FOTO: Dudi/HumasJabar)

Gerakan Sosial #JamMainKita

Gerakan Sosial #JamMainKita

DP3AKB, PHA

BANDUNG – Gerakan Sosial #JamMainKita yang digelar PT Johnson & Johnson Indonesia, melalui salah satu produk unggulannya Combantrin terus berkomitmen memperluas keberlanjutannya dengan bekerja sama dengan Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI). Setelah sebelumnya hadir di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) dan DKI Jakarta, kali ini gerakan sosial tersebut hadir di Provinsi Jawa Barat.

Pada hari Selasa 24 September 2019, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil bersama sekitar 700 masyarakat yang terdiri dari para murid sekolah dasar hingga pelajar sekolah menengah umum, orangtua, guru, pegiat pendidikan, serta pemerhati anak, memenuhi pelataran Gedung Sate Kota Bandung Jawa Barat, untuk ikut berpartisipasi dalam sosialisasi gerakan sosial #JamMainKita.

Pada pelaksanaan kali ini, gerakan sosial #JamMainKita di Jawa Barat hadir dengan slogan ASTAGA (Asik Tanpa Gawai) yang mencerminkan inisiatif pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk mendorong anak-anak agar aktif bermain di luar rumah, tanpa gangguan gawai.

“Pemerintah provinsi Jawa Barat turut mendukung gerakan sosial #JamMainKita sebagai provinsi terbesar di Indonesia yang memiliki banyak potensi untuk membangun masyarakat yang lebih baik, kami melihat gerakan sosial #JamMainKita sejalan dengan fokus dan komitmen pemerintah dalam mewujudkan pembangunan sumber daya manusia di berbagai daerah di Indonesia. Hal ini sesuai dengan fokus pembangunan yang dicanangkan oleh pemerintah Indonesia saat ini, yaitu menciptakan SDM Unggul Indonesia Maju,” ujar Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil dalam sambutannya (24/09/2019).

Pemerintah saat ini memfokuskan pada pembangunan sumber daya manusia, dimana pembangunan dimulai dari anak-anak usia dini yang merupakan cikal bakal terbentuknya masyarakat yang unggul mampu bersaing. Gerakan sosial #JamMainKita turut hadir sebagai solusi bagi pengembangan anak, salah satunya dengan mengajak masyarakat mengurangi waktu pemakaian gawai khususnya pada anak-anak dengan mendorong keluarga untuk bermain dan beraktivitas bersama di luar ruangan.

Saya melihat visi yang besar dari inisiatif Johnson & Johnson Indonesia – melalui salah satu merek unggulannya Combantrin dalam mendorong anak-anak dan keluarga untuk aktif bermain luar rumah. Sudah waktunya orangtua mengambil sikap tegas dan memiliki komitmen untuk melepaskan ketergantungan gawai pada anak-anak yang dapat menyebabkan mereka cenderung menjadi pasif dan individualis. Hal tersebut perlu dilakukan demi menyiapkan generasi penerus Indonesia yang unggul,” lanjutnya.

Hadir dalam kegiatan tersebut Ketua TP PKK Provinsi Jawa Barat Atalia Praratya, Country Leader of Communication & Public Affairs PT. Johnson & Johnson Indonesia Devy Yheanne, Manager Combantrin Mitchelle S. Putra, Ketua LPAI Seto Mulyadi.

Sumber : https://www.jabarprov.go.id/index.php/news/34558/2019/09/24/Pemerintah-Provinsi-Jawa-Barat-Mendukung-Gerakan-Sosial-JamMainKita

WhatsApp Image 2019-09-24 at 08.13.20

WhatsApp Image 2019-09-24 at 08.13.21

WhatsApp Image 2019-09-24 at 08.14.32

WhatsApp Image 2019-09-24 at 08.13.15

WhatsApp Image 2019-09-24 at 08.23.22

WhatsApp Image 2019-09-24 at 08.14.31