Melibatkan Laki-Laki Berbagi Peran Domestik

Melibatkan Laki-Laki Berbagi Peran Domestik

Artikel

Tahukah kamu, bahwa semua jenis pekerjaan rumah tangga, atau yang biasa disebut pekerjaan domestik, ternyata bisa dilakukan baik oleh laki-laki ataupun perempuan. Tapi mengapa jenis pekerjaan domestik dianggap sebagai pekerjaannya perempuan? Bahkan tidak jarang bila ada laki-laki yang menyapu, menjemur pakaian, masak, atau mengasuh anak, dia akan di-bully orang di sekitarnya karena dianggap sebagai laki-laki yang lemah, takut dengan istri, dan sebagainya. Aneh ya, kenapa laki-laki yang terlibat pekerjaan domestik malah distigma macam-macam? Padahal bila ia seorang anak laki-laki, bukankah ia sebetulnya sosok anak yang berbakti karena membantu orang tuanya? Dan kalau ia seorang suami, bukankah ia suami yang menyayangi istri dan anak-anaknya dengan ikut terlibat dalam pekerjaan rumah tangga?

Apa itu Berbagi Peran Domestik

Sebenarnya, apa itu pekerjaan domestik, dan apa itu berbagi peran domestik? Pekerjaan domestik ialah pekerjaan yang berhubungan dengan rumah tangga. Adapun berbagi, sebagaimana dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), bermakna membagi sesuatu bersama. Dalam konteks pekerjaan domestik, berarti berbagi pekerjaan domestik bersama-sama. Listyo Yuwanto[1], dari Fakultas Psikologi, Universitas Surabaya, menyatakan, “peran domestik menggambarkan tentang pekerjaan-pekerjaan atau aktivitas yang berhubungan dengan rumah tangga. Aktivitas yang termasuk dalam peran domestik, misalnya mencuci pakaian, memasak, menyapu rumah, mencuci piring, menyetrika, ataupun kegiatan yang sejenis termasuk mengasuh anak”.

Bisakah Laki-laki Berbagi Peran Domestik

Pekerjaan domestik pada dasarnya bisa dilakukan siapa saja, termasuk laki-laki. Untuk itu, selain faktor motivasi dari laki-laki untuk membuka perspektif bahwa jenis pekerjaan domestik bukan hanya tanggung jawab perempuan, laki-laki  juga perlu diberikan ruang dan dukungan dari keluarga dengan mengajaknya untuk mempelajari jenis pekerjaan domestik dan terlibat di dalamnya. Dengan demikian bila sudah terbiasa melakukan pekerjaan domestik, selain terampil mengerjakannya, laki-laki juga akan melihat pekerjaan domestik sebagai tanggung jawab bersama di dalam keluarga.

Bila merujuk pada hasil survey online yang dilakukan oleh Yayasan Pulih dan Aliansi Laki-laki Baru di tahun 2018 terkait pembagian peran domestik, pada dasarnya sebagian generasi muda saat ini tidak bermasalah dengan pembagian peran. Survey ini dilakukan terhadap 397 responden berusia 15 – 40 tahun, di Jabodetabek, dan sebanyak 97% responden menyatakan bahwa mereka mampu melakukan tugas domestik.

Selain survey di atas, sejumlah pemilik akun Facebook dan Twitter juga menanggapi pertanyaan Yayasan Pulih mengenai laki-laki yang turut berbagi peran domestik. Tanggapan yang mereka berikan antara lain:

“Bagaimanapun sistem pembagian tugas disepakati kedua pihak, yang terpenting semua dilakukan atas dasar kesadaran sendiri dan semua pihak merasa tidak dirugikan”.

Saya dibesarkan dalam keluarga yang mengharuskan lak-laki bisa mengerjakan pekerjaan rumah tangga dan saya akhirnya terbawa kebiasaan itu bahkan mengajarkan kepada anak-anak saya”. (19/08/18).

Dengan kata lain, laki-laki yang terlibat dalam pekerjaan domestik tidak memandang aktivitas berbagi peran domestik sebagai sesuatu yang salah, tapi sebaliknya, sarat nilai positif sehingga layak diturunkan kepada generasi mendatang. Itulah mengapa Listyo Yuwanto, terkait laki-laki berbagi peran, menyatakan bahwa: “Tidak ada paksaan untuk melakukannya, hanya bagaimana kita menyadari kesempatan itu dengan tujuan untuk membuat keseimbangan dalam keluarga. Dibandingkan diperdebatkan, lebih baik dicoba ketika ada kesempatan, dan rasakan bagaimana dampak positif dalam keluarga”.

Apa yang Membuat Laki-laki Sulit Berbagi Peran Domestik?

Sebagaimana diuraikan di atas, secara teknis pekerjaan domestik tidaklah sulit sejauh ada niat, dan mau mempelajarinya. Tetapi yang membuat jenis pekerjaan ini kerap dihindari khususnya oleh laki-laki, karena citra yang dibangun pada pekerjaan rumah tangga terlanjur dianggap sebagai: 1) aktivitas orang (perempuan) yang menunggu rumah saja (pengangguran), 2) pekerjaan yang tidak produktif dan tidak menghasilkan uang, 3) laki-laki yang melakukan pekerjaan domestik dianggap tidak berwibawa dan tidak sesuai dengan kodratnya. Bahkan seorang ibu, istri dan keluarga lainnya akan merasa malu kepada tetangga/orang lain bila laki-laki di rumahnya terlibat dalam pekerjaan domestik. Dengan demikian, baik laki-laki maupun perempuan saling melanggengkan asumsi bahwa pekerjaan domestik hanya area pekerjaan perempuan, dan laki-laki tidak pantas berada di dalamnya.

Belajar dari Mereka yang Mempraktekkan Berbagi Peran Domestik

Sogi Indra Duaja, seorang  penyiar Radio, menggunakan pendekatan fleksibel dalam berumah tangga dengan istrinya. Dimana bagi mereka tidak ada pemilahan khusus siapa melakukan apa, tetapi apa yang bisa dilakukan, itu yang dikerjakan. “Saya lebih suka jika ini disebut sebagai hubungan yang fleksibel. Dalam arti, apa yang bisa saya kerjakan ya saya kerjakan, begitu juga dengan istri, tanpa harus bersinggungan dengan peran gender”[2].

Demikian juga bagi Muhammad Anwar, laki-laki dari Nusa Tenggara Barat ini berpendapat bahwa menurutnya penting menjaga keharmonisan keluarga dengan cara berbagi peran domestik “Kesadaraan dari seorang laki–laki atau suami sangatlah penting untuk membangun kebersamaan di dalam rumah tangga. Hal inilah yang masih jarang dilakukan oleh laki–laki atau suami tentang berbagi peran di dalam rumah tangga sehingga menjadi salah satu penyebab ketidakharmonisan “[3].

Lain halnya dengan Bhagavad Sambada, seorang suami yang bekerja freelance, ia memilih menjadi stay-at-home dad dan istrinya bekerja di luar rumah, “Jadi, saat gue nikah dengan Lika (25) tahun 2014, kondisinya gue sudah enggak bekerja tetap lagi. Gue memilih pekerjaan-pekerjaan freelance, sementara istri gue baru bekerja tetap di digital agency. Pada tahun yang sama, setelah melahirkan, Lika memutuskan balik kerja dan gue full di rumah ngurus Astu (3), anak gue,”[4].(Tirto.id,2018)

Ketiga contoh di atas merupakan bukti kecil, bahwa tidak ada yang salah dari aktivitas berbagi peran domestik dan justru sebaliknya, dapat merekatkan hubungan keluarga. Jadi, bila berbagi peran domestik justru baik untuk keluarga, kenapa kita tidak melakukannya?  Ayo #KitaMulaiSekarang.[]

Penulis: Wawan Suwandi (http://yayasanpulih.org)

Langkah Pertama Dilakukan Istri ketika Alami KDRT

Langkah Pertama Dilakukan Istri ketika Alami KDRT

Artikel

https: img-o.okeinfo.net content 2016 02 05 196 1305793 langkah-pertama-dilakukan-istri-ketika-alami-kdrt-pviuo3bRE8.jpg
Ilustrasi istri KDRT (Foto: Shutterstock)

KEKERASAN Dalam Rumah Tangga (KDRT) menjadi isu besar. Kasus kekerasan perempuan ini memang sulit untuk dihilangkan. KDRT bisa berupa kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan penelantaran dalam rumah tangga.

Ketika istri mengalami KDRT mereka tidak boleh diam dan menyimpan masalah tersebut. Menurut Psikolog Klinis dan Pengembangan, Ratih Ibrahim, perlakuan ini masuk dalam kategori merugikan.

“Pertama yang harus dilakukan adalah menyelamatkan diri. Kedua memberi tahu keluarga atau orang terdekat. Kemudian mencatat kapan kekerasan itu terjadi,” ujar Ratih saat dihubungi Okezone.

Kalau kekerasan itu berbekas atau seperti kekerasan fisik atau seksual, korban harus melakukan langkah selanjutnya. “Kalau ada bekas luka dokumentasikan, kemudian lakukan visum, dan usahakan ada saksi yang melihat,” lanjutnya.

Tujuan dari langkah-langkah tersebut adalah sebagai bahan pertimbangan hubungan dan tindak lanjut terhadap perbuatan pelaku.

Sumber: (vin)/ https://lifestyle.okezone.com

5 Langkah Membantu Korban KDRT

Artikel

Apa yang akan Anda lakukan, saat mengetahui kakak, adik, sahabat, teman baik di kantor, atau siapa pun orang yang Anda sayangi dan pedulikan, menjadi korban KDRT? Dalam kondisi seperti ini, tak cukup bagi Anda untuk menunjukkan sikap peduli atau keinginan kuat untuk membantunya keluar dari penderitaan KDRT. Anda pun tak bisa sembarangan bertindak, karena jika salah bersikap, Anda justru berpotensi menyakiti si korban. Korban KDRT pun mengalami kekerasan berlapis, dari pelaku kekerasan dan dari Anda, orang yang berniat membantunya.

Saat dorongan untuk membantu begitu kuat, temukan cara tepat. Misalnya, sepupu Anda mengalami kekerasan psikis dari suaminya. Sang suami terlalu mengontrolnya, dan tidak ingin sepupu Anda meluangkan waktu kosong selain dengannya. Atau kondisi lain seperti suami kakak Anda cemburuan meski Anda tahu tak ada alasan untuk cemburu karena kakak Anda tak pernah melakukan apa pun yang berpotensi membuat suaminya merasa tak nyaman atau merasa terancam.

Kalau Anda menemukan tanda-tanda tersebut dalam hubungan pernikahan orang terkasih Anda, itu adalah bentuk kekerasan psikis dalam rumah tangga. Anda bisa melakukan sesuatu, tapi jangan sampai memperburuk situasi, bahkan membahayakan keselamatan orang terkasih Anda. Jangan pula menciptakan kondisi dengan menghujani pertanyaan kepada si korban, yang membuatnya merasa terasing. Berikan dukungan terhadap korban namun hindari konflik yang sifatnya emosional.

Berikut sejumlah caranya:
1. Edukasi diri. Cari organisasi, lembaga, atau komunitas yang bisa membantu Anda mendapatkan pengetahuan tepat mengenai kekerasan terhadap perempuan atau KDRT. Melalui jaringan ini Anda bisa mencari tahu cara yang lebih tepat dalam penanganan kekerasan. Tanpa memiliki pengetahuan yang baik, Anda cenderung bersikap tanpa arah, yang bisa jadi justru merugikan korban.

2. Pendekatan tepat. Lakukan pendekatan dengan orang yang Anda sayangi, dan menjadi korban dalam perspektif Anda. Karena bisa jadi, kakak atau sepupu atau siapa pun yang menurut Anda adalah korban kekerasan (psikis utamanya), tak selalu merasa sebagai korban. Jangan mudah menyerah jika memang Anda berniat membantunya. Karena bisa jadi ia tidak menghargai usaha Anda. Sebagian perempuan merasa kontrol berlebihan dari suaminya adalah bentuk ungkapan cinta. Kalaupun ia sadar perilaku suaminya salah, ia kerap merasa tak bisa hidup tanpanya. Situasi ini sulit dan tak mudah bagi Anda untuk membantu si korban, selembut apa pun pendekatan yang Anda lakukan. Jadi cari pendekatan yang tepat jika ingin membantunya.

3. Jangan mengkritik. Niat baik untuk membantu jika dilakukan dengan cara kurang tepat takkan membuahkan hasil. Dalam pandangan Anda, sikap suaminya jelas keliru dan merupakan bentuk kekerasan. Tapi belum tentu pandangan korban juga demikian. Ungkapkan pandangan Anda tanpa terkesan menghakimi atau mengkritik. Alih-alih mengeluhkan perilaku pasangannya, Anda bisa menawarkan bantuan, misalnya dengan menanyakan apa yang bisa Anda lakukan untuknya? Kalau si korban merasa tertarik dengan pertanyaan Anda, biarkan ia yang mulai mengungkapkan kerisauannya. Peran Anda adalah mendengarkannya. Biarkan ia bicara tanpa perlu Anda pancing dengan pertanyaan apa pun. Sikap ini akan membuatnya merasa nyaman berbicara dengan Anda.

Sekali lagi, tugas Anda adalah mendengarkan bukan menilai, apalagi menghakimi. Ketika si korban merasa memiliki dukungan, ia akan lebih terbuka dengan Anda. Dan tetaplah menjadi pendengar setianya. Dampingi ia sampai ia merasa siap untuk bertindak melakukan sesuatu untuk memperbaiki kehidupannya. Jadilah pendengarnya, namun tunjukkan juga dukungan dan selipkan motivasi tanpa mendominasi pembicaraan. Ajak ia bicara ketika ia siap melakukannya. Jangan memaksanya bicara karena Anda begitu ingin membantunya keluar dari masalah. Meski Anda terkesan pasif, ada kalanya Anda bisa bersikap tegas terutama ketika situasi di rumah tangganya mulai membahayakan jiwanya. Anda perlu tegas untuk membantu korban membuat pilihan. Dukungan yang tepat dari orang terdekat akan memberanikan dirinya dalam bertindak.

4. Berhati-hati. Ingatkan teman atau saudara Anda bahwa pasangannya yang melakukan kekerasan psikis (terlalu protektif) juga akan mengontrol berbagai tindakannya. Kalau si korban mencari informasi mengenai penanganan kekerasan melalui komputer misalnya, si pelaku kekerasan akan mengetahuinya karena ia akan mencari tahu apa yang dilakukan korban. Pelaku tak hanya memonitor korban, tapi juga komputer atau telepon yang digunakannya, untuk mengetahui apa yang telah dilakukannya. Jadi ingatkan orang terdekat Anda untuk mengunjungi tempat umum atau rumah teman yang bisa dipercaya jika ingin mencari informasi atau membutuhkan perlindungan dari pihak berwajib. Mungkin sulit bagi Anda untuk meyakinkannya hidup tanpa pasangan pelaku kekerasan. Tapi Anda bisa membuatnya membayangkan bagaimana bisa hidup lebih bahagia tanpa pasangan pelaku kekerasan. Dukungan dan perhatian Anda bisa memberikan pengaruh besar bagi korban kekerasan. Namun Anda perlu melakukan pendekatan tepat terhadap situasi sulit ini dengan sangat hati-hati, demi keselamatan Anda dan korban.

5. Bantu cari rumah singgah sebatas perencanaan. Kalau orang terdekat korban kekerasan memutuskan meninggalkan pasangannya, bantu ia menemukan rumah singgah yang tepat dengan perencanaan yang baik. Apalagi jika ada anak, pastikan ketika korban meninggalkan pasangannya, ia telah memiliki tempat tinggal yang aman. Kalau perlu cari rumah singgah yang menampung korban kekerasan, yang keberadaannya tidak diketahui oleh siapa pun. Ini penting untuk menjaga keselamatan Anda, terutama korban, dari kemungkinan tindakan kekerasan lanjutan dari si pelaku.

Ketika korban KDRT meninggalkan pasangannya dan memutuskan mengakhiri hubungan, risiko kematian tetap ada. Risiko ini tak hanya mengintai korban, tapi juga anak mereka, bahkan Anda, orang yang berniat membantu korban untuk mendapatkan hidup lebih layak dan bahagia. Jadi, kalau Anda memang peduli, minimalisasi risiko ini dengan mendampingi korban merencanakan atau mencari tempat tinggal atau rumah singgah, namun pastikan semuanya aman, untuknya juga Anda. Artinya, biarkan si korban yang memilih tempat tinggalnya, Anda hanya perlu membantu merencanakan dan memberikan dukungan, bukan menentukan keberadaannya.

Sumber: KOMPAS.com

Eviden PUG Provinsi Jawa Barat

Eviden PUG Provinsi Jawa Barat

Artikel, DP3AKB, PKHP

1. Naskah akademik Raperda PUG jawa barat
2. Perda 8/2017 tentang RPJMD 2013-2018
3. Kepgub 260/kep.1105-DP3AKB/2017 tentang Pokja Pug
4. Pergub 1/2013 tentang pedoman teknis pelaksanaan PUG di jabar
5. SE 474.24/40/BAPP Tahun 2018 tentang percepatan PUG di jabar

Motekar Raih Penghargaan Top 99 Inovasi Terbaik Kemenpan RB

Motekar Raih Penghargaan Top 99 Inovasi Terbaik Kemenpan RB

Artikel, Galeri Foto

top99

SURABAYA–Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat meraih penghargaan TOP 99 Inovasi Terbaik se-Indonesia pada Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik yang digelar oleh Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan RB) RI melalui Program Motivator Ketahanan Keluarga (MOTEKAR) karya Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP2AKB).

Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jawa Barat Iwa Karniwa menerima langsung penghargaan ini dari Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) Syafruddin dalam acara Pemberian Penghargaan Top 99 Inovasi Pelayanan Publik 2018 di Surabaya, Rabu (19/09/18). Berdasarkan Kepmenpanrb No 25 Thn 2018 tentang Penetapan Top 99 Inovasi Pelayanan Publik tahun 2018, Ia bersyukur inovasi pihaknya mendapat perhatian dan diapresiasi pusat.

“Alhamdulillah Pemprov Jabar dapat menghasilkan inovasi yang cukup diperhitungkan di pusat. Setelah ini ‘PR’nya adalah bagaimana inovasi ini terus dapat memiliki nilai kebermanfaatan bagi masyarakat,” katanya di Bandung, Kamis (20/09/18).

Menurutnya, langkah-langkah peningkatan kualitas para kader MOTEKAR terus digenjot, salah satunya melalui pelatihan dan bimbingan teknis. Selain itu, kata Iwa, perlu juga dilakukan evaluasi kinerja dengan mengecek dan membandingkan jumlah kasus yang terjadi, sehingga dapat menjadi suatu laporan kinerja.

Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) Syafruddin mengatakan pemerintah mendorong inovasi-inovasi yang bersifat lokal dan instansional, tetapi potensial untuk diterapkan secara nasional, diangkat dan dijadikan program nasional. Selain itu, pembentukan Mal Pelayanan Publik (MPP) di daerah harus diteruskan untuk mempercepat peningkatan kualitas pelayanan publik di tanah air.

“Inovasi-inovasi yang bersifat lokal dan instansional, tetapi potensial untuk diterapkan secara nasional, agar segera menjadi program nasional,” ujarnya dalam acara Pemberian Penghargaan Top 99 Inovasi Pelayanan Publik 2018 di Surabaya, Rabu (19/9/18).

Dikatakan lebih lanjut, saat ini sudah banyak inovasi dari pemerintah pusat maupun daerah yang mendapat penghargaan internasional. Hal itu sejalan dengan kebijakan Kementerian PANRB yang terus berupaya mendorong terciptanya terobosan untuk meningkatkan pelayanan publik. Kebijakan itu antara lain dengan membentuk Jaringan Inovasi Pelayanan Publik (JIPP) dan pembentukan Mal Pelayanan Publik (MPP).

Adapun inovasi daerah Jawa Barat yang masuk top 99 yaitu :
1. Pemprov Jabar dengan Inovasi MOTEKAR( motivator ketahanan keluarga) dari DP3AKB;
2. Kabupaten Bogor dengan dua inovasi yaitu: SIKEREN (dari Dishub) dan Utilitas Dashboard ketersediaan tempat tidur untuk meningkatkan pelayanan rawat inap ( dari RSUD Ciawi);
3. Kota Bandung dengan 2 inovasi yaitu: e-satria (Bapenda) dan Mini Lab food Security (Dinas Pangan dan Pertanian);
4. Kota Bogor dengan dua inovasi yaitu: Anjas Go Clear (BKD) dan Smart (DPMPTSP);
5. Kota Cimahi dengan inovasi kawasan Cimahi Technopark sebagai pusat layanan terpadu ekonomi lokal Kota Cimahi berbasis inovasi, ilmu pengetahuan dan teknologi melalui kolaborasi quadruple helix (UPT Cimahi Technopark).