Orangtua Menginginkan Agar Anak Berani bicara dan Terbuka, 9 Cara Agar Anak Lebih Terbuka pada Orangtua

Orangtua pasti menginginkan agar anak bisa tumbuh menjadi anak yang aktif, ceria, berani bicara, dan terbuka pada orangtuanya. Namun kenyataannya, semakin anak tumbuh besar, mereka justru semakin tertutup dan menjauh dari orangtua.

Komunikasi antara orangtua dan anak menjadi terhambat, karena anak sering menutup diri dan enggan untuk menceritakan apa yang dialaminya sehari-hari. Padahal komunikasi ini sangat berguna untuk membantu anak berbagi cerita dan pengalaman, serta mengatasi masalah yang mereka hadapi dalam hidup.

Agar anak menjadi lebih terbuka pada Anda, ini yang bisa Anda lakukan:

1. Jangan memaksa, Posisikan diri Anda sebagai teman dan tempat yang nyaman untuk berbicara

Tak ada orang yang senang dipaksa, termasuk dipaksa untuk mengatakan hal-hal yang tak ingin dibicarakan. Posisikan diri sebagai teman dan tempat yang nyaman untuk berbicara. Bersikaplah tenang, terbuka, dan tidak mendesak. Biarkan mereka merasa nyaman dan ingin berbagi dengan Anda tanpa ada tekanan.

2. Jangan menyerah karena anak-anak butuh waktu untuk bisa merasa nyaman dan mulai membuka diri

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa anak-anak butuh waktu yang cukup lama untuk bisa merasa nyaman dan mulai membuka diri. Jadi bersabarlah, dan jangan menyerah untuk membuat anak percaya pada Anda dan berani bicara.

Jika Orangtua mennginginkan agar anak berani bicara dan terbuka. Jangan memaksa, posisikan diri Anda sebagai teman dan tempat yang nyaman untuk berbicara

3. Jangan buat diri seperti hakim, sebaliknya, buat kalimat yang bisa memotivasi anak lebih baik

Salah satu hal yang tak disukai anak ketika bicara dengan orangtuanya adalah mendengar kritik yang dilontarkan orangtua. Tanpa Anda sadari, mungkin Anda sering melempar kata-kata yang menyalahkan atau menghakimi anak. Jangan buat diri seperti hakim, sebaliknya, buat kalimat yang bisa memotivasi anak lebih baik.

4. Anak lebih responsif untuk berbicara ketika mereka sedang beraktivitas

Tak semua anak merasa perlu berbicara secara khusus dengan orangtuanya. Bagi anak, suasana sepi, tenang, dan hanya berdua orangtuanya, menimbulkan suatu perasaan tegang yang tak menyenangkan. Anak-anak, khususnya laki-laki, lebih responsif untuk berbicara ketika mereka sedang beraktivitas. Misalkan di sela-sela main sepak bola, menonton film, menggambar, dan lainnya. Gunakan saat-saat aktif mereka, karena di saat seperti ini mereka bisa lebih mudah mengungkapkan perasaan dan pendapatnya.

5. Untuk pembuka pembicaraan, bicarakan tentang kegiatan favorit anak

Cobalah untuk memulai pembicaraan seputar minat dan kesukaan anak, misalnya tentang koleksi pernak-pernik Angry Birds-nya, lagu yang sedang disukainya, atau hal-hal lainnya. Hal ini bisa menjadi pembuka yang tepat untuk membahas hal-hal lain yang terjadi dalam kehidupan anak.

6. Ajukan Pertanyaan Spesifik Agar Mendapat Jawaban Yang Lebih Memuaskan

Mengajukan pertanyaan untuk membuka obrolan memang sangat efektif. Namun hindari pertanyaan yang terlalu umum seperti, “Bagaimana tadi di sekolah?”. Cobalah untuk mengajukan pertanyaan yang lebih spesifik, misalnya “Main apa saat istirahat tadi?”. Dengan menanyakan hal-hal yang spesifik, kemungkinan Anda akan mendapat jawaban yang lebih memuaskan, bahkan celotehan lain yang tak terduga.

7. Masuki “Dunia” Anak, Anak Akan Merasa Lebih Nyaman Dan Santai

Dengan mengikuti dunia anak, Anda akan lebih mudah untuk memancing anak bicara. Saat orangtua mampu masuk ke dalam dunianya, anak akan merasa lebih nyaman dan santai. Cari waktu dan tempat yang pas untuk memulai pembicaraan dengan anak.

8. Atur Waktu Keluarga Karena Itu Merupakan Waktu Yang Tepat Untuk Membantu Anak Lebih Terbuka Pada Anda

Saat-saat kebersamaan dengan keluarga merupakan waktu yang tepat untuk membantu anak lebih terbuka pada Anda. Sediakan waktu khusus untuk berlibur, atau coba saja makan malam bersama keluarga untuk membuka obrolan yang lebih intim satu sama lain.

9. Duduk Berdampingan

Beberapa anak, khususnya anak laki-laki, seringkali lebih mudah menerima pembicaraan dalam posisi duduk berdampingan. Dengan duduk bersebelahan, anak merasa posisinya sejajar dengan Anda. Sedangkan duduk berhadapan selama ngobrol, terutama ketika Anda sengaja mengajaknya berbicara, cenderung membuat anak merasa sedang disidang.

Artikel Terkait

10 Langkah Cegah Penurunan Derajat Kesehatan Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Jawa Barat Netty Heryawan mengenalkan 10 langkah sederhana yang bisa dilakukan setiap orang untuk membantu menjaga kesehatan tidak hanya dirinya sendiri tapi juga keluarganya. “Minimal ...
88 Tahun Peringatan Hari Ibu di Indonesia, Apa Pandangan Menteri Yohana? Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Yohana Yembise menegaskan, bahwa buruknya ketahanan keluarga Indonesia menyebabkan maraknya terjadi berbagai persoalan bangsa. "Maraknya berbagai persoalan bangsa...
Peparnas XV di Jabar Tahun 2016, Dibuka Resmi Menpora Dalam suasana yang mendung dan turun hujan rintik-rintik, Menpora, Imam Nachrowi dengan dipayungi ajudannya, meresmikan gelaran Pekan Paralimpik Nasional (Peparnas) XV, Sabtu (15/10) sore, bertempat di Lapangan Stadion Siliwa...
Dorothy Law Nolte: Anak Belajar dari Kehidupannya Artikel kali ini lebih ke arah pemahaman tentang Dorothy Law Nolte. Karyanya yang membahas tentang anak akan belajar dari apa yang mereka jalani. Mungkin untuk bisa mengerti artikel ini kita perlu menggunakan sisi perasaan ki...
Ini Cara Ajari Anak Melindungi Diri dari Pedofilia Anak-anak selalu menjadi incaran para paedofil yang berujung pada kekerasan seksual. Oleh karena itu, tugas utama orangtua adalah melindungi si kecil dari para predator seks yang dapat menghancurkan masa depan anak. Psikia...

Leave a Reply

Your email address will not be published.