Pola asuh yang berbeda antara suami dan istri terkadang berujung pada konflik. Namun lebih jauh lagi, ini bisa memunculkan kebingungan di benak anak mengenai apa yang harus ia perbuat, bagaimana sebaiknya ia bertindak, hingga aturan mana yang sebetulnya dikenakan padanya.

Oleh karena itu, orangtua sebaiknya mengakomodasi kebutuhan anak dan memberikan toleransi perbedaan dengan mengubah beberapa kebiasaan menjadi pola asuh yang tepat bagi buah hati.

Secara garis besar, ada tiga gaya pola asuh, yakni otoriter, permisif, dan demokratis.

1. Pola Asuh Otoriter
Orangtua yang otoriter memiliki kontrol penuh atas segala hal yang berkaitan dengan anak-anak mereka. Tak jarang, mereka menerapkan aturan-aturan yang ketat. Bahkan bisa saja, anak-anak dari orangtua yang otoriter tidak tahu kenapa aturan itu harus ada.

Orangtua otoriter lebih banyak menerapkan hukuman dibanding memberikan penguatan positif terhadap perilaku “salah” anak. Pola asuh ini memang cukup efektif untuk sementara waktu, akan tetapi ia tidak akan membuat anak langsung memahami mana yang benar dan mana yang salah.

2. Pola Asuh Permisif
Orangtua yang permisif akan membiarkan anak-anak mereka memiliki kontrol terhadap dirinya sendiri. Akibatnya, orangtua acapkali menemukan kesulitan untuk menetapkan aturan-aturan, misalnya yang berkaitan dengan rutinitas.

Anak-anak biasanya juga diperbolehkan membuat pilihan sendiri, bahkan meski anak-anak tersebut tidak selalu mampu bersikap baik dan membuat keputusan yang bertanggung jawab.

Akibat lebih jauh, orangtua yang permisif mungkin akan merasa bingung mencari cara untuk mengontrol anak-anaknya, sehingga malah membiarkan anaknya terus berperilaku negatif.

3. Pola Asuh Demokratis
Orangtua yang demokratis akan menjaga keseimbangan antara pola asuh otoriter dan pola asuh permisif. Mereka akan memastikan Sang Buah Hati tahu dan paham apa yang mereka harapkan.

Fokus mereka lebih pada penguatan positif untuk perilaku yang baik, ketimbang semata menghukum anak. Hukuman lebih bersifat memberi kesempatan belajar yang memungkinkan anak memahami kenapa perilaku mereka tidak diinginkan oleh orangtua.

Sumber: Hasto Prianggoro/berbagai sumber (http://nova.id/Keluarga/Anak/3-Gaya-Pola-Asuh-Yang-Diterapkan-Orangtua)

Artikel Terkait

Rehabilitasi Korban Kejahatan Seksual Bisa Seumur Hidup REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Rehabilitasi korban kejahatan seksual perlu diberlakukan seumur hidup. Hal itu disampaikan oleh Ketua Bidang Pemenuhan Hak Anak Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI), Reza Indragiri Amriel, da...
88 Tahun Peringatan Hari Ibu di Indonesia, Apa Pandangan Menteri Yohana? Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Yohana Yembise menegaskan, bahwa buruknya ketahanan keluarga Indonesia menyebabkan maraknya terjadi berbagai persoalan bangsa. "Maraknya berbagai persoalan bangsa...
Guru SD Kaget, Buku ‘Aku Berani Tidur Sendiri’ Bahas Masturbasi Inilah buku terbitan PT Tiga Serangkai yang menuai kontroversi (Radar Depok/Jawa Pos Grup) Dunia pendidikan lagi-lagi dikejutkan dengan buku berisikan materi tak patut. Di Depok, Jawa Barat, berbedar buku berjudul 'Aku...
Tiga Inovasi Jabar Akan Diadopsi oleh 16 Provinsi Tiga sistem inovasi milik Pemerintah Provinsi Jawa Barat yang telah dijadikan Pilot Project oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam hal pencegahan korupsi akan diterapkan di 16 Pemerintah Provinsi di Indonesia. K...
3 Ribu Warga Ikut Mudik Gratis Pemprov Jabar Sebanyak 3 ribu warga ikuti mudik gratis yang diselenggarakan Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Program mudik gratis ini menjadi upaya untuk menekan kepadatan dan kecelakaan selama musim mudik berlangsung. Sabtu (17/6) ...

Leave a Reply

Your email address will not be published.